Pasang Surut 'Kemesraan' Dagang AS-China

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 20:15 WIB
Tensi AS-China meninggi, Washington perintahkan tutup konsulat China di Houston
Foto: BBC World

Keterkaitan Rantai Pasok

Di luar perdagangan langsung, AS dan China juga menjadi semakin saling ketergantungan satu sama lain melalui peningkatan hubungan rantai pasok selama dekade terakhir. Setidaknya demikian menurut Fitch Ratings dalam sebuah laporan bulan lalu dikutip dari CNBC, Selasa (29/9/2020).

Rantai pasok adalah sebuah sistem terkoordinasi yang terdiri atas organisasi, sumber daya manusia, aktivitas, informasi, dan sumber-sumber daya lainnya yang terlibat secara bersama-sama dalam memindahkan bahkan menghasilkan suatu produk atau jasa baik dalam bentuk fisik maupun virtual dari suatu pemasok kepada pelanggan. Hasil produk dan layanan tadi kemudian dapat dikonsumsi di dalam negeri maupun secara global.

Sulit untuk mengumpulkan data akurat yang menguraikan kontribusi rantai pasokan tertentu oleh setiap perusahaan. Namun, OECD atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, meluncurkan database pada tahun 2013 lalu yang memberikan beberapa wawasan tentang cara kerja rantai pasokan global.

Estimasi terbaru yang tersedia oleh OECD menunjukkan bahwa pada 2015, input asing menyumbang 12,2% - atau sekitar US$ 2,2 triliun - dari total barang dan jasa yang dikonsumsi di AS. China adalah negara penyumbang terbesar dari input asing tersebut.

Beberapa produsen di AS sangat bergantung pada China untuk input perantara atau produk akhir, kata Fitch, mengutip data OECD. Mereka termasuk produsen tekstil, elektronik, logam dasar dan mesin.

Di China, pemasok asing menghasilkan sekitar 14,2%, atau US$ 1,4 triliun, dari total barang dan jasa yang dikonsumsi di dalam perbatasannya pada tahun 2015, menurut data OECD. AS juga merupakan negara penyumbang tunggal terbesar untuk masukan asing tersebut, perkiraan menunjukkan.

Berbeda dengan ketergantungan AS pada input China di sektor manufaktur, China jauh lebih bergantung pada kontribusi Amerika dalam bidang jasa.

Arus investasi

Meskipun saling ketergantungan dari sisi perdagangan dan rantai pasokan, arus investasi antara AS dan China agak melempem karena ketegangan bilateral kedua negara tengah meningkat.

Selama tiga tahun terakhir, nilai total investasi asing langsung dan kesepakatan modal ventura antar negara telah menurun, menurut data Rhodium Group.

Menurut Rhodium Group, telah tercipta tren penting di mana terjadi penurunan akuisisi China atas aset teknologi AS. Sementara itu, investasi AS di China relatif lebih tangguh.

Banyak bisnis AS yang beroperasi di China yang mengatakan mereka belum ingin pindah dari sana.

Lembaga pemeringkat mengutip survei yang dilakukan tahun lalu oleh Kamar Dagang Amerika di China, di mana 83% responden mengatakan mereka tidak mempertimbangkan untuk merelokasi manufaktur atau mencari sumber di luar China.

Proporsi perusahaan yang berniat untuk tetap di China telah meningkat dibandingkan dengan survei sebelumnya, dari 80% pada 2018 dan 77% pada 2017.

Halaman

(dna/dna)