Eksportir Minta BI Tetapkan Kurs Tengah
Senin, 16 Jan 2006 14:14 WIB
Jakarta - Eksportir Indonesia meminta kepada BI untuk menetapkan kurs tengah agar bisa dijadikan patokan bagi para eksportir. Permintaan itu untuk mengantisipasi makin menguatnya nilai rupiah yang membuat ketidakpastian harga bagi para eksportir."Kurs tengah sangat dibutuhkan, karena seharusnya beli bahan baku dan jual produk harus ada patokannya, agar ada kepastian," kata Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) R Novian G Ismy.Hal itu ditemui saat ditemui di sela-sela peresmian Pusat Perdagangan Berkelanjutan UKM di Hotel Gran Kemang, Jalan Kemang Raya, Jakarta, Senin (16/1/2006).Saat ini, demi mencari kestabilan kurs para eksportir rela pergi ke Singapura untuk melakukan transaksi di sana. "Mengingat kurs di Singapura lebih stabil," katanya. Pihaknya juga telah mengajukan kurs tengah kepada BI sejak lama.Dia mencontohkan seperti Malaysia yang punya kurs tengah sehingga saat krisis moneter, eksportir tetap bangkit. Selama ini dipilih negara Singapura sebagai negara tujuan transaksi para eksportir Indonesia.Selain keuangan di Singapura yang stabil juga disebabkan service pelabuhan yang baik dan letter of credit (L/C) bisa di-buy back dan bisa dijamin. Fluktuasi kurs ini yang paling terpengaruh adalah eksportir kecil karena pembelinya harus bertemu langsung. Sedangkan ekportir besar sudah mempunyai pasar seperti Uni Eropa, AS dan Jepang.Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Thomas Darmawan menyatakan, penguatan rupiah secara terus-menerus berdampak negatif bagi para ekportir. "Ini akan mempengaruhi cash flow jangka pendek tapi jangka panjang tidak terpengaruh," urainya.Dia juga setuju agar BI menetapkan kurs tengah. "Dolar naik turun, mestinya BI memanfaatkan situasinya agar industri tetap hidup," urainya.
(mar/)











































