Induk Perusahaan Malaysia Airlines Kehabisan Uang

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 02 Okt 2020 16:55 WIB
Thomas Lohnes/Getty Images
Foto: Thomas Lohnes/Getty Images
Jakarta -

Malaysia Aviation Group, perusahaan induk Malaysia Airlines mengatakan tidak dapat melunasi utang sewa setelah November 2020 kecuali perusahaan menerima lebih banyak dana dari negara Khazanah. Hal itu tertulis di sebuah surat kepada lessor atau penyedia sewa perusahaan.

Dikutip dari Reuters, Jumat (2/10/2020) menurut surat itu, grup penerbangan tersebut mengalami 'pembakaran' uang beberapa bulan terakhir, rata-rata sebesar US$ 84 juta setara Rp 1,2 triliun (kurs Rp 14.850). Likuiditas perusahaan kini hanya sebesar US$ 88 juta (Rp 1,3 triliun).

Sedangkan dana dari Khazanah sebagai pemegang saham tunggal grup maskapai terakhir pada 31 Agustus lalu sebesar US$ 139 juta (Rp 2 triliun).

"Kini perusahaan tidak adanya pendanaan lebih lanjut dari pemegang saham, grup tersebut kemungkinan tidak dapat memenuhi kewajibannya, termasuk pembayaran kepada lessor, pasca November 2020," katanya.

Saat kabar ini beredar, Malaysia Aviation Group dan Khazanah belum memberikan komentar. Maskapai nasional Malaysia ini telah berjuang untuk pulih dari dua tragedi pada tahun 2014. Ketika hilangnya penerbangan MH370 dan penembakan pesawat MH17 di atas Ukraina timur.

Khazanah dan maskapai telah melakukan restrukturisasi senilai US$ 1,5 miliar (Rp 22 triliun). Tetapi upaya untuk membalikkan bisnisnya semakin terganggu oleh pandemi COVID-19.

Malaysia Airlines berencana untuk merundingkan diskon besar-besaran dengan lessornya melalui rencana restrukturisasi yang ingin diterapkan melalui proses pengadilan Inggris. Selain Malaysia Airlines, grup perusahaan induk mencakup maskapai penerbangan lokal lainnya dan entitas yang terlibat dalam layanan penyewaan pesawat dan penanganan darat.

(fdl/fdl)