Menyoal LNG Tangguh
Senin, 16 Jan 2006 18:41 WIB
Jakarta - Kontrak liquified natural gas (LNG) dari Lapangan Tangguh, Papua ternyata masih menyisakan persoalan. Persoalan itu dimulai dari pro kontra soal harga LNG itu. Bahkan, polemik soal LNG Tangguh ini bertambah ramai ketika adanya rumor pihak buyer yakni Fujian, Cina berkeinginan untuk membatalkan kontrak pembelian itu.Soal rumor ini, berkali-kali dikomentari oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Purnomo menyatakan, soal akan hengkangnya buyer dari Cina ini masih akan dibicarakan lagi dengan pihak China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) sebagai buyer yang bermarkas di Cina. Soalnya, pembicaraan soal ini tidak bisa dibicarakan dengan pihak CNOOC yang berkantor di Jakarta.Bicara soal harga jual LNG Tangguh yang cukup ramai dibicarakan ini, ternyata banyak pihak yang menilai tidak fair apabila melihat hasil kontrak sales purchase agreement (SPA) LNG Tangguh yang dinegoisasikan dan ditandatangani pada tahun 2002 dengan kacamata kondisi sat ini. Karena harga jual LNG dikaitkan dengan harga minyak (paritas minyak) dengan menetapkan batas atas dan batas bawah. Dari tren perkembangan harga minyak saat itu sampai dengan tahun 20021, tidak ada tanda-tanda harga minyak akan meningkatkan dengan dratis. Harga maksimal minyak bumi pada waktu itu sekitar US$ 23 per barel (OPEC mematok price brand sebesar US$ 22 - US$ 28 per barel). Pada saat itu tidak ada tanda-tanda bahwa akan ada lonjakan harga minyak yang tinggi seperti yang terjadi pada saat ini (US$ 55 - US$ 60 per barel). Selain itu, ada fakta-fakta yang menyatakan selama kurang lebih 30 tahun kondisi struktur pasar LNG didominasi oleh produsen LNG yang jumlahnya relatif sangat terbatas (Indonesia, Malaysia dan Brunei). Lalu mulai sekitar tahun 2000, di samping proyek Tangguh, banyak proyek LNG baru yang dikembangkan dan akan segera memasuki pasar formula harga ditetapkan melalui tender karena banyaknya produsen LNG. Dalam tender LNG Guandong-Cina yang diikuti Indonesia, Qatar dan Australia, pihak Indonesia (LNG Tangguh) dikalahkan Australia-NWS. Hal ini menunjukan bahwa baik harga/formula harga maupun terms and condition yang ditawarkan oleh pihak Indonesia masih terlalu tinggi/tidak kompetitif dibandingkan produsen lain. Dalam tender LNG Taiwan (Tung Ting) yang dilaksanakan kemudian, pihak Indonesia (LNG Tangguh dan LNG Bontang) kembali dikalahkan oleh pihak kompetitor Qatar. Hal ini kembali menunjukan bahwa tawaran Indonesia masih kurang menarik dibanding produsen lain dan struktur pasar sudah mengalami pergeseran dari seller market ke buyer market. Makanya melalui hubungan bilateral G to G Indonesia-Cina yang pada waktu itu sedang mencapai puncaknya akhirnya Indonesia berhasil mendapatkan komitmen dari pihak Cina tanpa melalui tender dan mengalokasikan kebutuhan LNG Fujian bagi proyek LNG Tangguh. Pihak Cina mensyaratkan bahwa harga/formula harga serta term and condition dalam kontrak yang sama dengan LNG Guangdong. Dalam kaitannya dengan itu, Pemerintah Cina juga memberikan consession loan US$ 400 juta yang kemudian dipakai untuk pengembangan proyek PLTU Labuhan Angin Sumatera Utara, double track kereta api Cirebon-Kroya, serta pembangunan jembatan Suramadu Surabaya Madura yang kemudian dalam pemerintahan SBY ditambah lagi US$ 300 juta. Namun ada juga pihak yang menyatakan, formulasi harga LNG Tangguh ini dinilai merugikan. Nilai harga sebesar US$ 2,6 per MMBTU dinilai tak sepadan dengan harga LNG saat ini. Terlebih lagi, dari kontrak yang cukup panjang selama 25 tahun. Ini yang dinilai merugikan karena bukan melalui harga pasar.Pengamat perminyakan Kurtubi menilai, adalah hal yang menggembirakan jika Fujian memang batal membeli LNG Tangguh. "Bangsa ini tidak jadi rugi," kata Kurtubi kepada detikcom.Dirinya sangat setuju jika Pertamina berkeinginan untuk membelinya dengan harga yang diberikan pemerintah kepada Fujian. "Asalkan dengan catatan dengan harga itu, LNG tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," katanya.Dengan harga yang murah, tentunya konsumen dalam negeri akan mendapatkan keuntungan yang besar. "Multiplier effect-nya banyak sekali," tandasnya.
(mar/)











































