Bioskop di Inggris Tutup, 5.500 Pekerja Terancam PHK

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 05 Okt 2020 11:16 WIB
Ilustrasi bioskop
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Cineworld akan menutup sementara bioskop Inggris dalam beberapa minggu mendatang. Industri ini dalam keadaan yang sulit.

Dikutip dari BBC, Senin (5/10/2020) seperti yang disampaikan perusahaan kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Menteri Kebudayaan Inggris Oliver Dowden industri perfilman tidak lagi bisa bertahan. Mengingat penayangan sejumlah film beranggaran besar tertunda dan 5.500 pekerja terancam kena PHK.

Penayangan perdana film James Bond No Time To Die telah ditunda dua kali dan sekarang akan dirilis pada April 2021. Perusahaan berharap bioskop-bioskop Cineworld dapat dibuka kembali tahun depan. Dengan sejumlah staf dapat bergabung kembali dengan perusahaan.

Kepala Asosiasi Cinema Inggris, Phil Clapp khawatir dengan tantangan yang dihadapi industri perfilman di Inggris. Dia mengatakan penundaan rilis film James Bond telah menjerumuskan bioskop ke dalam krisis.

"Studio harus memikirkan dengan hati-hati ketika mempertimbangkan tanggal rilis. Mengingat dampak yang akan terjadi untuk masa depan layar lebar dalam jangka panjang," ujar Clapp.

Cineworld di AS, yang mengoperasikan 546 bioskop juga bisa ditutup paksa. Penutupan diikuti rencana pemangkasan sejumlah pekerja dan keputusan untuk konsumen.

September lalu perusahaan telah melaporkan kerugian selama enam bulan yang berakhir Juni lalu. Kerugian yang tercatat hingga US$ 1,6 miliar setara Rp 23 triliun (kurs Rp 14.850). Laporan itu menjadi peringatan bahwa perusahaan perlu mengumpulkan uang jika penutupan dan penundaan film lebih panjang.

Menurut Asosiasi Cinema Inggris, jika bioskop ingin dibuka kembali, perusahaan harus bisa memastikan untuk memberlakukan jarak sosial, seperti jarak tempat duduk dan antrean sejauh dua meter. Arahan jarak sosial juga dituliskan di sudut-sudut bioskop dan teater.

Analis Industri Strategi Bioskop The Big Picture Rob Arthur, mengatakan tahun ini menjadi tahun menantang baik bagi Cineworld, maupun grup bioskop terbesar di dunia AMC. Dia mengatakan keputusan Cineworld untuk menutup sementara seluruh bioskopnya cukup masuk akal. Sebab jika harus dibuka pengeluaran akan membengkak.

"Anda tidak bisa terus memenuhi biaya operasional tetap listrik, gas, AC, staf, ukuran jarak sosial, dan sebagainya, ketika jumlah penonton hanya sebagian kecil dari sebelumnya," ujar Arthur.

Arthur juga mengatakan bahwa cadangan kas Cineworld menipis. Begitu pun AMC memiliki persentase kewajiban keuangan yang tinggi dibandingkan dengan aset mereka.

Pendapatan Cineworld juga merosot menjadi US$ 712,4 juta (Rp 10 triliun) selama enam bulan pertama 2020. Sedangkan tahun lalu pendapatan mencapai US$ 2,15 miliar (Rp 31 triliun). Kerugian perusahaan tahun ini juga menandai penurunan besar pada laba sebelum pajak sebesar US$ 139,7 juta (Rp 2 triliun).

Bukan hanya Cineworld yang mengalami kesulitan tahun ini. Bioskop London Peckhamplex menutup bioskopnya pada 25 September akibat anjloknya jumlah pengunjung dan penundaan rilis film. Perusahaan berharap dibuka kembali pada bulan November, sekitar waktu film James Bond berikutnya akan dirilis.

(ara/ara)