Tingkat Pengangguran Era Trump Tertinggi Jelang Pilpres

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 05 Okt 2020 15:43 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dipindahkan ke pusat medis Walter Reed usai dinyatakan positif virus Corona (COVID-19), Sabtu (3/10/2020). Trump dijemput dengan helikopter kepresidenan Marine One.
Presiden AS Donald Trump/Foto: AP Photo
Jakarta -

Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pasar tenaga kerja AS tak kunjung pulih. Biro Statistik Tenaga Kerja mencatat tingkat pengangguran mencapai 7,9%.

Dikutip dari CNN, Senin (5/10/2020) angka tersebut menjadi angka tertinggi menjelang pilpres sejak pencatatan bulanan dimulai pada 1948. Pada 2012, ketika negeri Paman Sam memilih kembali Presiden Barack Obama, tingkat pengangguran mencapai 7,8%.

Pandemi COVID-19 telah merusak pasar tenaga kerja AS, lebih dari 22 juta pekerjaan lenyap. Jika Presiden AS Donald Trump kalah dalam pemilihan, dia bisa menjadi salah satu presiden yang memiliki catatan tingkat pengangguran yang tinggi. Catatan itu juga dimiliki oleh Presiden ke-33 AS Harry Truman.

Setelah itu ada Presiden George W. Bush yang pada akhir jabatannya terjadi resesi dan sejumlah pekerja di-PHK. Sekitar 605 ribu orang kena PHK, lebih sedikit dari catatan pasar tenaga kerja selama pemimpinan Trump.

Rebound pasar tenaga kerja sempat dialami AS saat sejumlah bisnis dibuka kembali beberapa minggu belakangan. Tetapi lebih dari enam bulan sejak pandemi COVID-19 melanda, perbaikan lebih sulit didapat. Mengingat kemerosotan ekonomi berdampak pada semua sektor bisnis.

Selain itu, dana dari Program Perlindungan Gaji semakin menipis untuk bisnis kecil. Bahkan sejumlah perusahaan besar dan maskapai berencana melakukan PHK skala besar pekan ini. Disney dan American Airlines sama-sama mengumumkan PHK pekan ini, masing-masing akan memangkas 28.000 dan 19.000 pekerja.

Industri perhotelan dan rekreasi, serta ritel, menambahkan sebagian besar pekerja bulan lalu, karena sektor itu terus bangkit kembali. Meski begitu, lapangan kerja di restoran masih turun 2,3 juta pekerja sejak Februari.

Kepala Ekonom Glassdoor Andrew Chamberlain mengungkap ekonomi saat ini dibagi menjadi dua sisi, pertama lebih dari 12,6 juta orang menjadi pengangguran akibat pandemi COVID-19. Sisi lain sejumlah pengusaha menambah jutaan pekerja baru.

Tingkat pengangguran permanen juga meningkat 36%. Selain itu, 617 ribu wanita keluar dari angkatan kerja pada bulan September. Separuh dari mereka berusia antara 35 dan 44 tahun, usia kerja utama. Sebagai perbandingan, hanya 78.000 pria yang keluar dari angkatan kerja tahun lalu.

Lambatnya pemulihan pasar tenaga kerja disebabkan akibat tidak adanya tambahan bantuan dari pemerintah. Stimulus sebelumnya seperti tunjangan pengangguran senilai US$ 600 setara Rp 8,8 juta (kurs Rp 14.850) berakhir Juli lalu.

Bantuan senilai US$ 300 (Rp 4,4 juta) telah ditandatangani Trump, tetapi dana itu tetap belum mendapatkan kesepakatan Kongres. Hingga kini Kongres terjebak dalam negosiasi untuk paket stimulus baru yang sangat dibutuhkan negara.

(ara/ara)