Ingin Harga Barang di RI Murah-murah? Ini Rahasianya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 10:15 WIB
Antrean panjang kendaraan terlihat di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, saat sore hari. Kemacetan itu terjadi di tengah penerapan PSBB ketat di Ibu Kota.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Ekonomi berbasis teknologi digital saat ini sedang berkembang di Indonesia. Pasalnya ekonomi digital disebut bisa membuat produksi dan distribusi menjadi lebih efisien.

Menteri Riset dan Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan inovasi teknologi ini mampu membuat masyarakat sejahtera.

Dia menyebutkan segala macam produk yang menggunakan teknologi akan membuat nyaman penggunaannya. Ini akan menciptakan efisiensi untuk pengguna.

Bambang mencontohkan ada startup yang dibina oleh Kemenristek untuk membantu nelayan. "Selama ini nelayan kalau menjual hasil lautnya ya ke pelelangan atau pedagang perantara, itukan masih panjang perjalanan untuk sampai wholesaler besar, ke pasar hingga ke restoran atau ke pembeli akhir," kata dia dalam wawancara khusus dengan detikcom, Selasa (6/10/2020).

Dia mengungkapkan panjangnya rantai distribusi ini membuat kesejahteraan menjadi buruk. Pasalnya harga yang dibeli dari nelayan di tangan pertama pasti akan lebih murah namun saat sampai di tangan terakhir akan tinggi dan mahal.

"Kesejahteraan ini akan menjadi jelek dan nelayan/petani akan menjadi kelompok termiskin. Bukan salah mereka, tapi karena rantai tata niaga yang panjang. Pembeli juga bisa dapat harga yang mahal," jelasnya.

Bambang menyampaikan dengan pendekatan digital, nelayan bisa menangkap ikan segar dan menjual di marketplace. Jadi dia bisa menjual dan mengirimkan langsung ke pembeli.

Menurut Bambang dengan digital ini rantai niaga bisa dipotong dengan cepat dan bisa memberi kesejahteraan untuk petani dan nelayan. Selain itu pelanggan juga bisa membeli dengan harga yang lebih murah.

Lanjut ke halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2