Sulit Cari Kerja saat Pandemi? Ini Tipsnya Biar Dilirik

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 14:25 WIB
Pencari kerja melakukan pendaftaran secara online di bursa kerja Bankers Career Expo 2014, di Jakarta Selatan, Selasa (04/11/2014). Sejumlah bank nasional membuka lowongan bagi pencari kerja yang berminat menggeluti dunia perbankan. Pameran ini berlangsung hingga 5 November 2014.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) menyebabkan adanya lonjakan pencari kerja. Situs pencarian kerja Jobstreet mencatat peningkatan pelamar hingga dua kali lipat di tengah pandemi COVID-19. Artinya, 1 lowongan kerja diperebutkan oleh ratusan bahkan ribuan orang, sehingga kompetisi semakin sulit.

"Bagaimana sih cara mendapatkan pekerjaan? Nah ini menjadi lebih tough lagi karena di tengah pandemi persaingan sangat tinggi. Jadi sebelumnya rata-rata pelamar itu naik 50%. Belum lagi jika posisi tertentu itu jumlah pelamarnya mencapai ribuan, kalau 800 itu rata-rata, yang tadinya satu posisi dilamar 400 menjadi 800, posisi tertentu dilamar ribuan orang," kata Country Manager Jobstreet Indonesia Faridah Lim dalam Bincang Virtual Jobstreet, Rabu (7/10/2020).

Jobstreet juga mencatat adanya peningkatan akses dari para penggunanya selama pandemi. Selain itu, banyak juga pencari kerja yang membutuhkan tips-tips mencari kerja selama pandemi. Faridah mengatakan, pandemi ini menyebabkan pergantian pola perekrutan, sehingga tips-tips mencari kerja saat ini sangat penting untuk dipelajari.

"Hal paling sederhana secara umum yang bisa dilihat adalah jika perusahaan memanggil pencari kerja, atau me-review pencari kerja itu sudah berbeda dengan masa lalu. Kalau sebelum pandemi yang dilakukan adalah menelepon atau mengirimkan email, atau menghubungi pencari kerja melalui situs/aplikasi Jobstreet, memberikan notifikasi maka yang dilakukan saat ini, semua proses yang dilakukan hanya basis teknologi," terang dia.

Ia mengatakan, pelamar kerja juga harus menambahkan kemampuan di luar relevansi bidang yang dilamar, juga latar belakang pendidikan. Terutama untuk kemampuan di bidang teknologi.

"Sekarang kemampuan untuk familiar dengan technology, satu contoh paling sederhana adalah pada saat menghubungi pencari kerja atau interview, sekarang dilakukan melalui teknologi. Dan saya melihat banyak sekali pencari kerja begitu dihubungi atau interview, mereka masih kesulitan. Mereka mengatakan bahwa aduh saya tidak punya Zoom atau Skype. Sehingga ini menyulitkan perusahaan untuk melakukan proses interview," tegas dia.

Senada dengan Faridah, HR Services Assistant Manager PT Panasonic Gobel Indonesia Lilis Sukarno selaku perekrut mengatakan, kemampuan di bidang teknologi memang sangat diutamakan saat ini. Ia menjelaskan, kemampuan itu akan jadi nilai plus jika dicantumkan dalam Curriculum Vitae (CV).

"Kalau tadi Bu Farida bilang ini dia harus sudah bisa pakai semua sistem digital, iya. Jadi di CV-nya pun dia harus menunjukkan bahwa dia jago dalam hal semuanya, dan dia tampilkan semua kebisaan yang dia punya. Sehingga itu jadi pertimbangan kita. Karena lowongan pekerjaan itu, mungkin di bagian kami yang rekrut, ini sepertinya dia nggak cocok, kita punya kandidat lain, mungkin kita akan tawarkan ke tempat lain," papar Lilis yang juga hadir dalam Bincang Virtual itu.

Selain itu, ia menegaskan seorang pelamar juga harus siap untuk menjalani berbagai cara interview. Terutama di pandemi ini, perusahaan sudah mengurangi interview tatap muka, tapi melalui aplikasi digital.

"Sekarang ini kita tidak hanya melihat dari sosok orangnya, yang terpenting, utama itu mereka untuk komunikasi harus bisa atau harus punya. Jangan ketika kita mau interview, kita menunggu, kami bisa interview nggak? Nah itu yang menurut kita sangat memakan waktu. Sudah tahu dia cari kerja, jadi dia harusnya sudah ready," imbuh dia.

Dalam kesempatan yang sama, Talent Acquisition & Scouting Manager Danone Indonesia Almer Hafiz juga menekankan kemampuan dalam teknologi sangatlah penting, apalagi melihat kebiasaan konsumen juga sudah berubah di tengah pandemi.

"Dengan behaviour konsumen sudah berubah, kita pasti juga menuntut kandidat di luar sana untuk menambah skill-nya. Contohnya mereka harus menambah skill terkait dengan digital marketing, social media, digital data, termasuk big data analytic. Itu yang harus bisa ditambahkan skill-nya, sehingga mereka bisa menjual dirinya, dan membuat mereka bisa lebih visible untuk korporasi bahwa dia punya skill itu, yang saat ini sedang booming, sedang heboh, bisa diterima dengan skill itu. Nah itu salah satu tips mencari kerja during this pandemic," kata Almer.

(eds/eds)