Singapura Akhirnya Berikan Data Statistik Perdagangan RI
Selasa, 17 Jan 2006 18:33 WIB
Jakarta - Setelah sekian lama didesak untuk memberikan data statistik perdaganga antara Singapura dan Indonesia, akhirnya pemerintah Singapura bersedia membukanya.Selama ini, meski hubungan kedua negara sudah berlangsung lama, namun Indonesia masih sering mengalami kendala mendapatkan data statistik yang rinci dari Singapura. Data dari Singapura diperlukan pemerintah guna melakukan cross checking, sebagai upaya menanggulangi dugaan terjadinya kegiatan ekspor impor ilegal, dari dan ke Indonesia.Keadaan ini sudah berlangsung sejak tahun 1974, yang mendorong pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini mengadakan kerja sama dengan pihak Singapura.Bahkan dalam pertemuan bilateral antara Presiden Indonesia dan Perdana Menteri (PM) Singapura disela pertemuan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Busan Korea, PM Singapura menyampaikan akan memberikan data statistik perdagangan mulai 1 Januari 2006."Selama ini hanya Indonesia saja yang tidak dipresentasikan datanya, makanya diangkat isu secara bilateral dan kali ini janji telah ditepati," kata Menteri Perdagangan Mari E Pangestu, dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Selasa (17/1/2006). Menurut Mari, berdasarkan data Singpura pada tahun 2005, negara itu melakukan ekspor ke Indonesia sebesar 16,392 miliar dolar Singapura (Sin$) dan re-ekspor ke Indonesia sebesar Sin$ 20,424 miliar. Sementara Singpura melakukan impor dari Indonesia sebesar Sin$ 17,4 miliar. Neraca perdagangan Indonesia dengan Singapura pada tahun 2000-2003 menunjukkan surplus bagi Indonesia. Namun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak tahun 2004 Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 94,9 juta. Sedangkan pada periode Januari-September 2005 terjadi defisit US$ 949,8 juta.Menurut Mari pada tahun 2004, berdasarkan data dari Singapura, negara itu melakukan ekspor ke Indonesia sebesar Sin$ 13,697 miliar, serta re-ekspor ke Indonesia Sin$ 18,44 miliar. Sedangkan Singapura impor dari Indonesia Sin$ 16,443 miliar.Sementara berdasarkan data BPS impor Singapura ke Indonesia sebesar Sin$ 10 miliar dolar Singapura, tapi data Singapura menyebutkan sebesar Sin$ 13,697 miliar."Artinya ada selisih neraca di luar re-ekspor sebesar Sin$ 3,6 miliar ini semua pada tahun 2004," ujar Mari.Perbedaan data ini, ungkap Mari, disebabkan oleh lima faktor yaitu, time lag, valuation, re-ekspor, sistem perdagangan dan pencatatan barang.
(ir/)











































