Top! INKA Mau Bikin Jalur KA yang Sambungkan 2 Negara Afrika

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 10 Okt 2020 14:15 WIB
Sejak tahun 1981 PT Indonesia Kereta Api telah beroperasi. Di tanah seluas 22,5 Hektar tersebut, INKA telah memproduksi ribuan kereta api untuk Indonesia termasuk jenis kereta dengan gerbong anti peluru. Yuk, kita intip proses pembuatan kereta api tersebut.
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

PT INKA (Persero) akan menggarap proyek upgrading jalur kereta api (KA) yang menghubungkan dua negara di Benua Afrika yakni Mali dan Senegal. Direktur Utama INKA Budi Noviantoro mengatakan, proyek upgrading itu akan dilakukan di atas jalur KA sepanjang 1.023 kilometer (Km).

"Kami sudah berhubungan dengan salah satu trader di Afrika, yang biasa kemarin membantu PTDI ke Afrika. Kami sudah diskusi dengan mereka untuk membangun 1.203 Km upgrading jalur KA dari Ibu Kota Mali sampai ke Dakar (Ibu Kota Senegal)," kata Budi dalam webinar Strategi BUMN Menembus Pasar Global, Sabtu (10/10/2020).

Budi mengatakan, proyek itu sangat dinantikan kedua negara tersebut. Pasalnya, jalur KA di sana sudah tak beroperasi kembali. Sehingga, kegiatan logistik hanya bisa melalui jalur darat dengan truk yang memakan waktu sampai 2 minggu, dan ongkos pun membengkak.

"Karena Mali nggak bisa keluar tanpa melalui pelabuhan Dakar. Nah ini sekarang masih pending, tapi kita akan lihat begitu sudah ada anggaran kita akan jalan lagi. Jadi rehab dari Dakar sampai Mali nanti untuk angkutan barang. Karena angkutan barang kalau pakai truk sampainya 2 minggu, sehingga biaya mahal sekali, jaraknya kan 1.023 Km," papar Budi.

Selain proyek itu, INKA juga terus menggencarkan proyek KA lainnya di Benua Afrika. Salah satunya ialah memasok lokomotif ke Zambia.

"Nah di Zambia ini kita memang ikut lelang. Kita berkolaborasi, ada 30 lokomotif. Melalui loan dari pemerintah Swedia, kami sedang proses, mudah-mudahan nanti akhir tahun kita bisa kontrak. Ada 30 lokomotif sekitar US$ 90 juta long-sale," urainya.

Pihaknya juga tengah memproses kerja sama untuk menyabungkan Angola dengan Kongo melalui jalur KA.

"Angola juga sudah masih sepaket dengan Afrika. Nah Angola dia berharap dari Kongo, dari Provinsi Kasai nanti bisa terhubung ke Angola. Mereka juga butuh. Mereka sudah dapat loan dari China tahun 2012. Dari spesifikasi dilihat, tetapi keretanya jalannya 30 Km per jam. Saya juga bingung kenapa," tutur Budi.

Secara keseluruhan, proyek KA di Benua Afrika dilakukan INKA sepaket dengan pelatihan operasional dan perawatan. Pasalnya, negara-negara tersebut tak bisa dilepas sendiri meski proyeknya sudah jadi.

"Jadi intinya beberapa negara Afrika ini tak cukup hanya dikasih proyek. Tapi harus ditingkatkan kapasitas building, itu mutlak. Training harus ada, kalau tidak ya dia tidak bisa menyelesaikan. Jadi paketnya seperti itu. Tidak hanya pengadaan tapi juga training, kemampuan mereka dalam merawat dan operasional harus diajari," tutup dia.

(fdl/fdl)