Corona Tak Jadi Hambatan, INKA Tetap Garap Proyek PLTS di Kongo

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 10 Okt 2020 16:00 WIB
Sejak tahun 1981 PT Indonesia Kereta Api telah beroperasi. Di tanah seluas 22,5 Hektar tersebut, INKA telah memproduksi ribuan kereta api untuk Indonesia termasuk jenis kereta dengan gerbong anti peluru. Yuk, kita intip proses pembuatan kereta api tersebut.
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

PT INKA (Persero) tetap melanjutkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 200 Mega Watt peak (MWp) di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, Afrika meski di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Pada 15 September 2020 lalu, INKA sudah melaksanakan proses peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk proyek tersebut.

"Jadi tanggal 15 September kemarin, dengan situasi COVID-19, dengan segala macam pengamanan protokolnya, kita berangkat ke Kongo untuk melaksanakan ground breaking 200 Megawatt Solar Panel yang dikerjakan bersama-sama INKA. Jadi kepercayaan ini luar biasa, baik pemerintah dan Delegasi Kongo," ungkap Direktur Utama INKA Budi Noviantoro dalam webinar Strategi BUMN Menembus Pasar Global, Sabtu (10/10/2020).

Tak hanya INKA, dua perusahaan pelat merah lainnya juga turut menggarap proyek tersebut yakni PT Len Industri (Persero) dan PT Barata Indonesia (Persero). Dalam proyek gabungan ini, Len Industri menjabat sebagai Ketua Tim Kerja Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Surya di lingkungan BUMN yang dibentuk oleh Kementerian BUMN sejak Juli 2020 lalu.

Proyek PLTS ini merupakan kerjasama dengan afiliasi dari TSG Global Holdings, yakni Sunplus S.A.R.L. Nantinya, Sunplus S.A.R.L. akan memberikan kewenangan sepenuhnya dalam pekerjaan Engineering, Procurement and Construction (EPC), termasuk di antaranya kepercayaan tata kelola manajemen profesional, serta sebagai pemegang konsesi investasi PLTS ini.

"Jadi dengan situasi COVID-19 pun kita berangkat. Alhamdulillah hari ini Delegasi Kongo yang pertama akan datang nanti jam 5 sore. Tanggal 30 Oktober nanti akan datang juga Delegasi kedua dari Kongo, levelnya menteri, akan datang bersama-sama dengan PT Len, INKA, Barata," urai Budi.

PLTS ini akan dibangun di atas lahan seluas 300 hektare (Ha). Nilai kontraknya mencapai US$ 175 juta atau setara Rp 2,59 triliun. Pembangunan PLTS 200 MWp itu merupakan tahap awal, dari total proyek 1.000 MWp.

Pembangunan PLTS ini menggunakan sistem ground-mounted (di atas tanah) dan on-grid atau terhubung/terkoneksi dengan jaringan (grid), artinya bersama pembangkit lainnya ikut menyuplai beban di jaringan listrik yang sama. PLTS ini akan digunakan untuk mengalirkan arus listrik ke wilayah Kinsasha yang masih belum dialiri listrik.

(fdl/fdl)