Ada Perubahan Tren Konsumen Saat Belanja Online, Penjual Siap Adaptasi?

Nurcholis Maarif - detikFinance
Senin, 12 Okt 2020 21:36 WIB
Ilustrasi belanja online
Foto: dok. Tokopedia
Jakarta -

Pandemi membuat pola konsumsi masyarakat berubah. Ini karena adanya penyesuaian terhadap kebijakan pembatasan sosial yang berlaku dan pilihan alternatif untuk menghindari kontak fisik yang rentan terjadinya penyebaran virus.

Banyak riset yang menyebutkan bahwa belanja online maupun menggunakan pelayanan digital jadi pilihan warga saat pandemi, seperti yang dilakukan Blackbox dan Toluene. Riset yang mengambil konsumen Asia Tenggara tersebut juga mengungkapkan masyarakat lebih banyak memilih merek lokal saat belanja online.

Adaptasi atau penyesuaian juga ternyata tak hanya dilakukan konsumen, tetapi juga penjual. Hal itu misalnya dilakukan oleh Tokopedia dan mitra penjualnya.

VP of Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak menjelaskan keadaan pandemi mendorong Tokopedia untuk melakukan berbagai penyesuaian tak hanya buat menjaga kesehatan dan memudahkan belanja masyarakat, tetapi juga demi mengakselerasi pemulihan ekonomi di Indonesia.

"Contohnya, kami telah memutuskan untuk meniadakan selebrasi di Ramadan Ekstra, yang biasanya diadakan selama bulan Ramadan, dan menggantinya dengan kampanye #JagaEkonomiIndonesia yang lebih sesuai dengan situasi saat ini," ujar dia dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2020).

"Melalui inisiatif tersebut, kami mendorong sebanyak-banyaknya masyarakat Indonesia, khususnya UMKM lokal, mendapatkan panggung untuk menciptakan peluang online dan memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan tanpa harus keluar rumah sekaligus menjaga perputaran roda ekonomi Indonesia yang saat ini terdampak pandemi," imbuhnya.

Ia mengatakan upaya yang dilakukan secara konsisten tersebut mendorong peningkatan jumlah penjual di Tokopedia. Kini terdapat lebih dari 9,2 juta penjual yang 94% di antaranya adalah penjual berskala ultra mikro. Artinya ada kenaikan jumlah penjual sebesar lebih dari 2 juta dari 7,2 juta penjual sejak Januari lalu.

Dukungan Tokopedia terhadap gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia di sisi lain juga merupakan upaya yang sejalan dengan kampanye #JagaEkonomiIndonesia untuk membantu para pegiat usaha lokal beradaptasi dengan berkolaborasi dan berinovasi demi mempertahankan bisnis di tengah pandemi.

"Usaha fesyen muslim lokal Nadjani adalah salah satu penjual di Tokopedia yang memutuskan merombak koleksi pakaian Ramadan yang sudah jadi namun kurang laku akibat PSBB. Koleksi tersebut akhirnya diubah menjadi celemek dan mukena agar lebih relevan dengan masyarakat yang kini lebih banyak beraktivitas di rumah," ujarnya.

Ia juga mencontohkan Klinik Kopi yang menjadi contoh pegiat usaha kopi lokal yang harus menutup gerai offlinenya selama PSBB. Akhirnya, Klinik Kopi memaksimalkan penjualan lewat Tokopedia; berkolaborasi melalui kampanye #SatuDalamKopi bersama lebih dari 1.000 pegiat usaha kopi lokal lainnya.

"Kini lebih dari 90% penjualan Klinik Kopi berasal dari Tokopedia. Produknya bahkan dapat dinikmati masyarakat lebih luas, mulai dari Palu, Kalimantan hingga Papua," ujarnya.

Diungkapkannya juga, pandemi mendorong banyak festival atau bazar offline disesuaikan menjadi sepenuhnya digelar secara online melalui Tokopedia. Bazar buku online Big Bad Wolf adalah salah satu contoh pemanfaatan teknologi yang telah mempermudah masyarakat dari Sabang hingga Merauke mendapatkan akses lebih luas terhadap buku, sekaligus meningkatkan literasi, serta pendidikan secara umum.

"Kami di Tokopedia percaya bahwa pendekatan ekosistem, seperti filosofi membangun sebuah kota, akan membawa skala dan berbagai keuntungan yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia dan juga jutaan bisnis UMKM di Indonesia," ungkap Nuraini.

"Terutama di masa pandemi seperti saat ini, kami percaya belanja online bisa menjadi alternatif yang baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, memastikan bisnis tetap berjalan, sambil mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai," imbuhnya.

(prf/hns)