Rumus 40-30-20-10 untuk Investasi di Masa Pandemi, Apa Itu?

Yudistira Imandiar - detikFinance
Rabu, 14 Okt 2020 15:05 WIB
Maysita Crystallin, Staff khusus Menteri keuangan bidang perumusan kebijakan fiskal dan makro ekonomi dan Aidil Akbar, Chairman dan Presiden Asosiasi Perencana Keuangan IARFC didampingi MC Mochamad Achir Praktisi media dan komunikasi menjadi pembicara dalam Webinar bertema Investasi di Masa Pandemi di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2020.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi Masyita Crystallin mengatakan masyarakat yang punya cukup dana tetap perlu berinvestasi dan meningkatkan konsumsi di masa pandemi. Sebab, investasi dan konsumsi masyarakat akan turut membantu menggerakkan perekonomian negara.

Dalam Forum Dialog Produktif Semangat Selasa bertajuk 'Investasi di Masa Pandemi', Selasa (13/10), Masyita menjabarkan perekonomian Indonesia sudah menunjukkan tren perbaikan. Ia menyebut kontraksi pertumbuhan ekonomi di Q3 sudah tidak sedalam Q2. Peningkatan ekonomi tersebut diharapkan terus berlanjut di Q4.

"Masyarakat yang masih bisa investasi, perlu tetap investasi dan tetap konsumsi karena itu akan membantu rekan-rekan kita UMKM, dan juga produksi dalam negeri. Pemerintah banyak melakukan program pemulihan ekonomi tapi tetap perlu peran semua pihak untuk mendorong kegiatan ekonomi lebih baik," jelas Masyita dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2020).

Menurutnya, Kebijakan pemerintah menyalurkan bantuan pada kelompok masyarakat yang rentan dengan meluncurkan banyak paket pemulihan ekonomi melalui program perlindungan sosial, dukungan UMKM, sektoral kementerian dan lembaga serta pemda dan distribusi pembiayaan korporasi, cukup ampuh untuk menjaga kegiatan produksi dan konsumsi nasional.

Dalam rangka pemulihan ekonomi, Masyita mengatakan investasi domestik juga berperan penting. Ia mengulas, investasi di sektor ritel, UMKM, hingga sektor-sektor ultramikro memiliki pengaruh besar pada pergerakan ekonomi nasional.

"Investasi domestik, baik itu ritel, UMKM, sektor-sektor ultramikro, kemudian perusahaan-perusahaan lokal, itu memang bagian besar dari investasi kita saat ini, untuk tumbuh lebih cepat, ditambah dengan investasi asing," urai Masyita.

Ia menambahkan, untuk investasi ritel masyarakat dapat membeli sukuk atau obligasi negara, sebagai bagian berpartisipasi dalam pembiayaan negara.

Chairman & Presiden Asosiasi Perencana Keuangan IARFC Aidil akbar menimpali, masyarakat dapat memulai investasi dalam tiga kategori, yakni investasi jangka pendek, investasi jangka menengah, dan investasi bisnis.

"Pertama, investasi jangka pendek seperti tabungan, deposito, emas dan obligasi. Kedua, jangka menengah yang meliputi reksadana pendapatan tetap dan campuran, Ketiga memulai bisnis," sambung Aidil.

Ia menerangkan masyarakat yang ingin memulai investasi jangka pendek, menengah, maupun bisnis dapat membagi alokasi dana dengan rumus 40-30-20-10.

"40% untuk memenuhi kebutuhan hidup, 30% untuk membiayai cicilan, 20% untuk investasi, dan 10% untuk sosial seperti zakat, infak, dan sedekah," urai Aidil.

Aidil juga mengingatkan masyarakat untuk mempersiapkan dana jangka pendek, menengah, dan panjang. Selain itu, dana darurat dan asuransi kesehatan seperti BPJS untuk berjaga-jaga jika memerlukan perawatan kesehatan.

Kedua narasumber tersebut sepakat, salah satu instrumen finansial yang baik untuk diinvestasikan yaitu melalui Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Menurut mereka, liquiditas yang hanya disimpan di bank dapat diubah menjadi instrumen investasi yang aman dan menghasilkan, sekaligus membantu pemulihan ekonomi nasional.



Simak Video "Erick Thohir Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pulih 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)