Daya Beli Masyarakat Bakal Pulih Semester II-2006
Rabu, 18 Jan 2006 17:45 WIB
Jakarta - Daya beli masyarakat Indonesia yang kini tengah terpuruk akibat melonjaknya inflasi pascakenaikan BBM tahun lalu diperkirakan akan kembali pulih pada semester II-2006.Pulihnya daya beli masyarakat ini seiring dengan meningkatnya impor barang modal dan bahan baku yang pada semester I-2006 masih tersendat.Demikian diungkapkan oleh Direktur Riset bidang Moneter dan Makro Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FE-UI, Arianto A Patunru, dalam seminar Outlook 2006 yang berlangsung di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Rabu (18/1/2006).Meski LPEM FE-UI dinilai agak terlambat menyampaikan outlook ekonomi 2006, namun sang moderator acara berkilah tahun baru belum sepenuhnya berlalu, karena masih ada Tahun Baru Imlek dan Tahun Baru Hijriah yang jatuh pada akhir bulan ini.Senada dengan perkiraan ekonom lainnya, Arianto mengatakan, pada semester pertama 2006 masih akan terjadi penurunan atau perlambatan perekonomian nasional.Perlambatan ekonomi tersebut disebabkan oleh penurunan sisi permintaan akibat masih melemahnya daya beli masyarakat."Penurunan dalam perekonomian di semester pertama tahun 2006, lebih banyak disebabkan oleh faktor permintaan bukan penawaran," kata Arianto. Pada semester I-2006 ini perusahaan-perusahaan akan cenderung menggunakan stok lama untuk siklus bisnisnya. Akibatnya impor atas barang modal dan bahan baku akan menurun.Namun kondisi pada semester I-2006 akan mulai berbalik arah pada semester II-2006, dengan membaiknya daya beli masyarakat dan meningkatnya pembelian barang modal.Untuk mendukung perbaikan ekonomi itu, Arianto melihat, perlunya iklim investasi yang menunjang karena akan menjadi kunci pemulihan ekonomi jangka panjang selain upaya pemerintah untuk mengefektifkan kebijakan fiskal dalam jangka pendek.LPEM UI memrediksi pada tahun 2006 pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4-5,7 persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 9.700-9.750, inflasi 8-9 persen, SBI tiga bulan 9-11 persen, harga minyak mentah dunia US$ 50-52 per barel dan defisit APBN sebesar 1-1,5 persen.
(ir/)











































