Puncak Krisis Gas, Master Plan Energi Segera Disusun
Rabu, 18 Jan 2006 18:34 WIB
Jakarta - Tak bisa dipungkiri lagi saat ini merupakan puncak krisis gas bagi industri. Untuk itu, Depperin bersama BP Migas serta penghasil dan pengelola gas tengah menyusun master plan kebutuhan energi yang diharapkan rampung Maret-April ini.Master plan ini akan merencanakan kebutuhan gas sampai 2010 dengan prognosa 2015 dan memperhatikan supply dan demand.Hal tersebut disampaikan Dirjen Industri Agro dan Kimia Depperin Benny Wahyudi dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (18/1/2006)."Gas untuk Jabar dan Jatim tidak sesuai kebutuhan. Penyebabnya keterlambatan menggarap ladang gas. Padahal di saat kenaikan BBM, industri memilih mensubstitusinya dengan gas sehingga ada kenaikan permintaan," ujar Benny. Ia menjelaskan, krisis gas sebenarnya telah terjadi sejak 2-3 tahun lalu. "Dan kali ini adalah puncaknya," cetusnya. Diharapkan pada November jaringan gas Sumatera dapat beroperasi. Selain itu diharapkan ada receiving terminal dengan adanya pipa Sumatera-Jawa, sehingga pasokan gas ke Pulau Jawa cukup.Mengenai pembahasan swap untuk kebutuhan gas Sumatera dan Aceh dari Kaltim, menurut Benny, saat ini sedang dilakukan pembahasan. Jangka menengah pada tahun 2009, diharapkan gas dari Blok A sudah dapat beroperasi. Masalah belum dioperasikannya ladang gas yang baru, menurut Benny, dikarenakan menunggu ada kepastian pembeli sehingga perlu perencanaan jumlah dan lokasinya. Diharapkan untuk industri mensubstitusi penggunaan gasnya dan bahan alternatif dengan LPG atau CNG paling lama November 2006."Kita katakan ke industri ini faktanya. Pilihannya mereka tidak bisa beroperasi atau tambah investasi dengan sedikit tambahan biaya operasi, namun bisa jalan. Dan kondisi ini tidak bisa dihindari karena gasnya tidak ada," papar Benny.Kondisi ini berbeda dengan permasalahan gas di Kaltim dan Lhok Seumawe yang memiliki cadangan gas, tapi sudah ada komitmen ekspornya.
(qom/)











































