Bantuan Mulai Seret, Kemiskinan di AS Naik Lagi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 16 Okt 2020 08:50 WIB
A shopper wears a mask as he pushes a grocery cart in the rain Thursday, June 25, 2020, in Houston. Texas Gov. Greg Abbott said Wednesday that the state is facing a massive outbreak in the coronavirus pandemic and that some new local restrictions may be needed to protect hospital space for new patients. (AP Photo/David J. Phillip)
Foto: AP Photo/David J. Phillip
Jakarta -

Pandemi Corona terus mendorong angka kemiskinan di Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi karena bantuan pemerintah berkurang, padahal tekanan ekonomi terus berlanjut.

Seperti diberitakan BBC, Jumat (16/10/2020), hampir 8 juta orang Amerika telah jatuh miskin sejak Mei. Minggu lalu, 900.000 orang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran yang menunjukkan jumlah tertinggi sejak Agustus.

Analis meminta bantuan untuk mencegah pemulihan ekonomi terhenti.Tetapi, para politisi di Washington berselisih mengenai kesepakatan selama berbulan-bulan, dengan pembicaraan dalam beberapa pekan terakhir dibayangi oleh pemilihan presiden yang akan datang dan perselisihan tentang Mahkamah Agung.

"Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa bantuan lebih lanjut mungkin tidak datang dari pejabat terpilih di Washington," kata Mark Hamrick, analis ekonomi senior di Bankrate.com.

Pandemi telah menyebabkan lebih dari 20 juta orang AS kehilangan pekerjaan. Pemerintah AS pun telah menyetuji lebih dari US$ 3 triliun sebagai uang bantuan.

Bantuan itu termasuk cek hingga US$ 1.200 untuk kebanyakan individu dan uang untuk sementara waktu, meningkatkan tunjangan pengangguran dengan tambahan US$ 600 per minggu.

Bantuan besar-besaran itu pada awalnya meredam pergolakan ekonomi dan mendorong tingkat kemiskinan menurun. Tapi, angka itu mulai naik lagi di musim panas ini karena dorongan finansial satu kali dari cek mereda dan ekspansi ke tunjangan pengangguran berakhir pada akhir Juli.

Pada September, tingkat kemiskinan mencapai 16,7% naik dari 15,3% pada Februari dan 14,3% pada Mei, dengan tingkat yang lebih tinggi pada anak-anak dan minoritas, menurut perhitungan para peneliti di Columbia University.

(acd/fdl)