Terpopuler Sepekan

Suka Duka Penonton Bayaran di Balik Ceria di Layar Kaca

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 17 Okt 2020 14:15 WIB
Dimas Penonton Bayaran/Anisa Indraini-detikcom
Foto: Dimas Penonton Bayaran/Anisa Indraini-detikcom
Jakarta -

Penonton bayaran juga sebuah profesi. Menjalani profesi satu ini juga punya suka dukanya tersendiri.

Salah seorang penonton bayaran bernama Dimas Satrio (28) mengaku senang menjalani profesinya saat ini. Lantaran tidak perlu berpikir keras bisa dapat duit, bahkan bisa mengenal pribadi artis secara dekat.

"Sukanya awal-awal kerja begini ketemu artis, orang awam tuh girang (senang) ketemu artis. 'Oh dia aslinya begini, ada yang ketemu oh dia ternyata sombong ya' gitu-gitu jadi kita tahu. Udah gitu gampang cuma tepuk-tepuk (tangan) doang kita dapat duit," kata Dimas saat berbincang dengan detikcom, Kamis (8/10/2020) lalu.

Lagi pula, menurutnya bayarannya sama saja dengan pekerja kantoran biasa yang bergaji setara UMR. Dirinya bisa mengantongi Rp 150 ribu per hari dari hasil keliling jadi penonton bayaran di 3 program stasiun TV.

"Karena sebenarnya penonton bayaran itu gajinya sama saja kayak UMR, cuma dapatnya per hari. Kalau pekerja kan dapatnya per bulan, jadi sama saja. Sudah gitu nggak banyak aturannya, nggak usah pakai seragam-seragam. Siapapun bisa jadi penonton bayaran, sampai yang ibu-ibu sudah berumur juga bisa, nenek-nenek bisa, tergantung acaranya ada yang ngambil anak muda, ada yang acaranya ngambil seluruh umur," jelasnya.

Sedangkan dukanya harus rela pulang sampai larut malam bahkan pagi, terlebih saat bulan puasa untuk acara sahur. Dimas yang sudah 11 tahun berkecimpung jadi penonton bayaran menceritakan bahwa ada ibu-ibu yang sampai membawa koper berisi baju, untuk kemudian menginap di emperan stasiun TV tersebut. Hal itu dilakukan untuk mengirit ongkos transportasi, biasanya orang seperti itu hanya sebagai pendatang khusus untuk program bulan Ramadhan.

"Kalau lagi ada acara sahur itu ada ibu-ibu yang nggak pulang ke rumah, tidur di emperan kantor stasiun TV-nya bawa baju, bawa koper, pulangnya Sabtu-Minggu karena dia sudah dapat jadwalnya itu pokoknya dia sampai sahur. Jadi dia nggak pulang lagi karena rumahnya jauh," ujarnya.

Penonton bayaran lainnya, Yulia Putri (35) menambahkan bahwa duka menjadi penonton bayaran yakni terlalu lama menunggu. Pasalnya, penonton bayaran harus bersiap 3-4 jam sebelum acara dimulai. Terlebih saat acara untuk rekaman (tapping), biasanya proses syutingnya lebih lama karena harus menunggu artisnya datang dan tidak jarang adegannya terus diulang.

"Kadang-kadang ada acara baru, namanya belum tayang di TV kadang-kadang acaranya lama selama-lamanya, bisa dari pagi ketemu pagi karena cut-cut terus, sebenarnya sih capek nunggunya kadang-kadang lama, kadang kan kalau acara tapping gitu artisnya datangnya lama, ngaret. Kalau live sesuai jadwal cuma misalkan acara jam 12.30 WIB, kita harus standby jam 11.00, jam 10.00 karena kan kita sistemnya absen," tuturnya.

Meski begitu, Yuli menilai bahwa duka menjadi seorang penonton bayaran tidak sebanding dengan sukanya. Pasalnya menjadi penonton bayaran tidak perlu berpikir, justru malah dihibur dan dibayar.

"Sukanya itu hiburan, pasti hiburan, apalagi kalau acaranya itu happy, yang lain lihat di TV sama apa yang kita lihat langsung itu beda jadi kita ngerti sosok ini begini, banyak teman, banyak pengalaman. Lebih banyak sukanya sih karena kerjanya nggak mikir, cuma disuruh ketawa, tepuk tangan, gitu doang sih enak," imbuhnya.

Awalnya, Yuli menjadi penonton bayaran karena dua tahun yang lalu merasa tidak ada pekerjaan lain. Dirinya saat itu merupakan korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan diajak oleh temannya yang sudah lebih dulu menjadi penonton bayaran.

"Aku baru 2 tahunan (jadi penonton bayaran). Diajak sama teman yang jadi penonton bayaran juga, dulu aku SPG di Blok M karena di PHK jadinya diajakin karena memang nggak ada kerjaan lain," ungkapnya.

(eds/eds)