Sri Mulyani Bandingkan Utang RI dengan Negara Lain, Banyakan Mana?

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 11:56 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Menkeu Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan soal kondisi utang pemerintah. Menurutnya, kenaikan utang di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) dialami semua negara.

"Semua negara terjadi kenaikan," katanya dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Oktober 2020 yang disiarkan lewat Youtube Kementerian Keuangan, Senin (19/10/2020).

Sebelumnya Bank Dunia (World Bank/WB) merilis data bahwa Indonesia masuk ke dalam daftar 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan utang luar negeri terbesar di dunia. Sri Mulyani menjelaskan bahwa tren kenaikan utang secara global terjadi karena banyak negara memperlebar defisit anggaran, termasuk negara yang selama ini menerapkan defisit secara hati-hati.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun langsung membandingkan utang Indonesia dengan beberapa negara maju dan berkembang. Seperti Kanada, defisit mereka diperlebar jauh dari minus 0,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2019, menjadi minus 19,9% pada 2020. Pelebaran ini kemudian membuat rasio utang terhadap PDB mereka naik dari 88,6% pada 2019 menjadi 114,6%.

Kenaikan utang, kata Sri Mulyani, juga terjadi di negara yang sangat konservatif mengenai utang. Contohnya Jerman yang mengalami kenaikan utang dari 59,5% terhadap PDB pada 2019 menjadi 73,3% pada 2020. Kenaikan terjadi karena anggaran mereka berubah dari surplus 1,5% di 2019 menjadi defisit minus 8,2% di 2020.

Sementara rasio utang Indonesia di 2019 berada di posisi 30,5% terhadap PDB dan tahun 2020 akan naik menjadi 38,5%. Itu terjadi karena defisit Indonesia diperlebar dari minus 2,3% menjadi minus 6,3%.

Tahun 2021, utang Indonesia dipatok sebesar 41,8% terhadap PDB. Akan tetapi, defisit tetap diturunkan menjadi minus 5,5%. "Kami sudah melihat ada pemulihan ekonomi," ucap Sri Mulyani.

Berikut daftar proyeksi rasio utang terhadap PDB berbagai negara dari 2019 ke 2020:

1. Jepang: 238,0% menjadi 266,2%
2. Italia: 134,8% menjadi 161,8%
3. Amerika Serikat (AS): 108,7% menjadi 131,2%
4. Prancis: 98,1% menjadi 118,7%
5. Kanada: 88,6% menjadi 114,6%
6. Inggris: 85,4% menjadi 108,%
7. India: 72,3% menjadi 89,3%
8. Jerman: 59,5% menjadi 73,3%
9. Malaysia: 57,2% menjadi 67,6%
10. China: 52,6% menjadi 61,7%
11. Thailand: 41,1% menjadi 50,4%
12. Filipina: 37% menjadi 48,9%
13. Indonesia: 30,5% menjadi 38,5%

(ara/ara)