Soroti Belanja APBD, Sri Mulyani: Masih Sangat Tertahan!

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 12:34 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) didampingi Wamenkeu Suahasil Nazara (kanan) mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2020). Raker tersebut membahas Laporan Keuangan Kementerian Keuangan pada APBN 2019. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww.
Foto: ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai Pemerintah Daerah masih belum maksimal menggunakan anggaran APBD. Bahkan dia menyebutnya realisasi belanja APBD bulan September kemarin sangat tidak signifikan.

Meski begitu, realisasi belanja APBD tahun ini sedikit naik dari tahun lalu. Pada September 2019 realisasi belanja mencapai 53,1% kini, bulan September tahun ini menjadi 53,3%.

"Kalau kita lihat realisasi APBD, meski sudah ditransfer, tidak serta merta mereka juga melakukan langkah secepat kita harapkan. Realisasi belanja sampai September itu 53,3%, memang itu lebih baik dari September tahun lalu, tapi sangat tidak signifikan," ujar Sri Mulyani dalam konferensi APBN Kita secara virtual, Senin (19/10/2020).

"Kalau kita lihat di daerah ini realisasi belanjanya masih sangat tertahan," ujarnya.

Sri Mulyani mengungkapkan, hal ini bisa saja terjadi karena pendapatan asli daerah (PAD) turun cukup banyak.

"Ini juga karena penerimaan PAD mereka turun. Namun, kita berharap program lainnya bisa dilakukan," ujar Sri Mulyani.

Dalam paparannya dijelaskan realisasi PAD bagi Pemda di Indonesia pada September tahun ini minus 19,80% secara tahunan. Hal itu disebabkan oleh anjloknya penerimaan pajak yang terkait dengan mobilitas dan konsumsi penduduk.

Mulai dari pajak hotel, pajak restoran, pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB), pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB), dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB).

(eds/eds)