Sampai Kapan RI Terjebak di Jurang Resesi?

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 21 Okt 2020 10:45 WIB
Geliat aktivitas di Mal Mangga Dua Square terdampak pandemi COVID-19. Meski begitu, sejumlah pedagang masih tetap berjualan untuk bertahan dari pandemi-resesi.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Perekonomian Indonesia di sepanjang kuartal III-2020 hampir dipastikan akan kembali terkontraksi. Dengan kata lain, RI dipastikan terjerembab ke dalam jurang resesi ekonomi.

Lalu bagaimana dengan kuartal IV-2020?

Menurut laporan Seeking Alpha Edisi Oktober 2020 dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) pertumbuhan ekonomi RI di kuartal III-2020 memang masih di teritori negatif. Namun kontraksinya tidak akan sedalam di kuartal II-2020 yang sebesar -5,32%.

Sementara untuk sisa 3 bulan tahun ini diperkirakan akan terjadi rebound. Pemulihan yang terjadi di kuartal IV-2020 diyakini akan lebih tinggi.

"Di kuartal IV menurut kami tren pemulihan ini masih berpotensi terjadi, didukung oleh akselerasi penyerapan anggaran penanganan pandemi COVID-19," kata Chief Economy & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan dalam keterangan resminya, Rabu (21/10/2020).

Menurutnya ada kemajuan yang berarti dalam penyerapan anggaran pemerintah untuk penanganan COVID-19. Per akhir September pemerintah sudah mencairkan 43% dari total anggaran stimulus, naik pesat dari 31% di akhir Agustus.

"Dalam pandangan kami distribusi stimulus akan semakin dipercepat di kuartal IV, terutama untuk anggaran pembiayaan korporasi yang diharapkan dapat mulai dicairkan di bulan Oktober," tambahnya.

Meski begitu masih ada ancaman di kuartal IV-2020. Bagaimanapun yang menjadi akar permasalahan semuanya adalah pandemi COVID-19. Jika wabah tidak bisa dikendalikan maka ekonomi bisa kembali goyah. Sebab penambahan kasus COVID-19 bisa mendorong diterapkannya kembali PSBB.

"Mitigasi penyebaran COVID-19 harus tetap menjadi prioritas, karena jika kasus COVID-19 terus meningkat. Hal tersebut menimbulkan risiko harus diterapkannya kembali PSBB ketat, yang dapat berdampak negatif pada proses pemulihan ekonomi," tutupnya.

(das/eds)