Asosiasi Kertas Sayangkan Sampoerna Mundur dari Kiani

Asosiasi Kertas Sayangkan Sampoerna Mundur dari Kiani

- detikFinance
Kamis, 19 Jan 2006 18:01 WIB
Jakarta - Pelaku industri kertas yang tergabung dalam Asosisi Pulp dan Kertas, menyayangkan batalnya PT Sampoerna Strategic, milik Keluarga Sampoerna, membeli PT Kiani Kertas dari Prabowo Subianto dan Bank Mandiri."Sangat disayangkan Sampoerna mundur ambil Kiani Kertas, padahal kita berharap lebih banyak investor Indonesia yang bermain di industri ini," kata Ketua umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia Muhammad Mansur.Hal itu diungkapkan Mansur, disela acara penandatanganan kerja sama Kantor Menteri Perindustrian dan Menteri Lingkungan Hidup, di Gedung Departemen Perindustrian (Depperin), Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (19/1/2006).Menurut Mansur, industri kertas dan pulp (bubur kertas) Indonesia masih membutuhan banyak investor, karena potensi penjualan pulp dan kertas dunia yang terus meningkat. Selain itu Indonesia juga memiliki potensi hutan yang bisa dikelola untuk mendukung industri ini. Mansur juga menilai, prospek industri kertas 2006 sangat bagus. Hal ini berdasarkan Depperin, yang memperkirakan tumbuh 7,5 persen dengan ekspor naik 9 persen atau senilai US$ 5,6 miliar. Sedangkan jumlah tenaga kerja sektor ini diperkirakan meningkat menjadi 132 ribu orang.Saat ini 45 persen produksi pulp Indonesia untuk kebutuhan ekspor dan kertas 30 persen. Penjualan pulp dan kertas Indonesia masih lebih banyak untuk kebutuhan lokal. Indonesia memiliki sebanyak 80 pabrik pulp dan kertas. Hutan Indonesia yang bisa digarap untuk kertas 3,32 juta hektar dari total 120 juta hektar hutan Indonesia.Saat ini Indonesia menjual harga kertas sesuai harga internasional sebesar US$ 800 per ton. Sedangkan pangsa pasar ekspor Indonesia untuk penjualan kertas dunia baru sebesar 3 persen.Eksportir terbesar kertas masih didominasi negara di Amerika Utara dan negara Skandinavia yang menguasai 80 persen pasar. Kebutuhan kertas dunia saat ini mencapai 370 juta ton per tahaun dan pulp 200 juta ton. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads