AS Jual Senjata ke Taiwan, China Naik Pitam

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 22 Okt 2020 21:45 WIB
Negara Pembeli Senjata Canggih Australia Akhirnya Terungkap
Ilustrasi Senjata (Foto: ABC Australia)
Jakarta -

Hubungan Amerika Serikat-China kembali memanas. Kali ini terjadi setelah Amerika Serikat berencana mengirim paket senjata ke Taiwan, hal ini dikhawatirkan mengancam kedaulatan nasional China.

Dilansir dari Reuters, Kamis (22/10/2020), pemerintah Presiden Donald Trump telah meningkatkan dukungan untuk Taiwan melalui penjualan senjata dan kunjungan pejabat senior AS.

Hal ini menambah ketegangan antara Beijing dan Washington, yang telah meningkat oleh perselisihan tentang Laut China Selatan, Hong Kong, hingga masalah hak asasi manusia dan perdagangan.

Beijing telah menerapkan tekanan yang meningkat pada Taiwan, yang masih diperintahkan secara demokratis untuk mengakui kedaulatan China. Mereka sudah menerbangkan jet tempur melintasi garis tengah Selat Taiwan yang sensitif, yang biasanya berfungsi sebagai penyangga tidak resmi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan dalam jumpa pers harian bahwa penjualan senjata antar Taiwan dan AS harus dihentikan. Menurutnya, hal itu mengganggu urusan dalam negeri China.

"Sangat mengganggu urusan dalam negeri China, sangat merusak kedaulatan dan kepentingan keamanan China. Mereka mengirimkan sinyal yang sangat buruk kepada pasukan kemerdekaan Taiwan, dan sangat merusak China-AS, hubungan dan perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan," kata Zhao.

"China akan membuat tanggapan yang sah dan perlu sesuai dengan bagaimana situasi berkembang," tambahnya.

Paket senjata AS terbaru termasuk sensor, rudal dan artileri. Bahkan mereka juga berencana melakukan transaksi untuk drone yang dibuat oleh General Atomics dan rudal anti-kapal Harpoon berbasis darat, yang dibuat oleh Boeing Co.

Di Taipei, Menteri Pertahanan Taiwan Yen De-fa berterima kasih kepada Amerika Serikat dan mengatakan senjata itu untuk membantu Taiwan meningkatkan kemampuan pertahanan mereka untuk menghadapi ancaman musuh dan situasi baru.

"Ini termasuk kemampuan tempur yang kredibel dan kemampuan peperangan asimetris untuk memperkuat tekad kami untuk mempertahankan diri. Ini menunjukkan betapa pentingnya AS terhadap keamanan di Indo Pasifik dan Selat Taiwan," kata Yen.

"Kami akan terus mengkonsolidasikan kemitraan keamanan kami dengan Amerika Serikat," ujarnya.

Yen mengatakan mereka tidak mencari konfrontasi dengan China dalam kesepakatannya dengan AS. Sebaliknya, dia mengungkapkan pihaknya hanya ingin memperkuat pertahanan negara.

"Kami bukan mau terlibat dalam perlombaan senjata dengan China. Kami akan mengedepankan persyaratan dan membangun sepenuhnya sesuai dengan konsep strategis pencegahan berat, mempertahankan posisi dan kebutuhan pertahanan kami," ujar Yen.

(dna/dna)