95% Produksi Cengkeh untuk Suplai Industri Rokok

Nurcholis Ma - detikFinance
Sabtu, 24 Okt 2020 18:00 WIB
pile cloves on wood background
Foto: iStock
Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat 95% produksi cengkeh digunakan untuk mensuplai kebutuhan industri rokok. Sedangkan sisanya sebesar 5% untuk kebutuhan farmasi dan aneka pangan.

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementan Hendratmojo Bagus Hudoro mengatakan apabila produksi industri hasil tembakau (IHT) menurun sebagai dampak naiknya cukai rokok maka akan berimbas terhadap menurunnya serapan produksi cengkeh. Menurunnya IHT tersebut bahkan akan bepengaruh terhadap penyerapan di lapangan.

"Sebanyak 95 persen produksi cengkeh untuk mensuplai industri rokok. Artinya, selain tembakau, cengkeh adalah bahan baku utama industri rokok. Kalau IHT terdampak, maka produksi cengkeh akan mengalami penurunan juga," papar Bagus dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2020).

Dalam sebuah webinar pada Kamis (22/10), Bagus mengatakan konsumsi cengkeh dalam negeri rata-rata 120 ribu ton per tahun. Namun, apabila produk IHT menurun, dipastikan serapan cengkeh ke industri rokok juga menurun, apalagi harga cengkeh saat ini juga rendah, antara Rp 40 ribu-Rp 50 ribu per kg.

Guna mengatasi menurunnya produksi cengkeh, kata Bagus, Kementan melalui Direktorat Jenderal (Ditjen Perkebunan) sepanjang tahun 2020 terus mengembangkan pertanaman cengkeh melalui program rehabilitasi dan perluasan lahan di sejumlah daerah. Rehabilitasi tanaman cengkeh juga berfungsi untuk meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas perkebunan berorientasi ekspor ini.

Sebelumnya bahkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam kunjungannya ke Provinsi Maluku, Mei 2020 lalu, berpesan agar jajarannya melakukan pendampingan untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing, dan keunggulan setiap komoditas perkebunan, termasuk rempah. Komoditas perkebunan seperti cengkeh ini harus diperkuat di sektor hulunya.

"Selain itu, harus dikembangkan pula sektor hilirnya supaya petani atau pekebun punya nilai tambah," ujar Syahrul.

Hal senada diungkapkan Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono. Menurut Kasdi, Ditjen Perkebunan Kementan menaruh perhatian besar pada peningkatan produksi, produktivitas, nilai tambah dan daya saing produk perkebunan.

Menurut Kasdi, agar produktivitas dan produksi komoditas cengkeh meningkat, perlu dukungan benih berkualitas. Mengingat cengkeh merupakan bahan baku industri (rokok) yang sangat dibutuhkan untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

(mul/ega)