Siapa Sangka Sri Mulyani Pernah Punya Nilai Merah di Rapor Sekolah?

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 26 Okt 2020 20:05 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Sri Mulyani Indrawati sudah dua kali dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik dunia yaitu pada tahun 2018 dan 2020. Penghargaan Finance Minister of the ear for East Asia Pacific diberikan oleh Majalan Global Markets.

Sri Mulyani juga pernah menduduki jabatan strategis di pemerintahan Indonesia maupun di lembaga internasional. Seperti Bank Dunia, dirinya menjabat sebagai Direktur Pelaksana.

Banyak cerita yang sudah dilalui Sri Mulyani untuk mencapai pada titik sekarang ini. Kesuksesan yang didapat tidak melulu berawal dari hasil yang baik, dirinya mengaku pernah mendapat nilai 'merah' alias di bawah rata-rata yang ditetapkan saat masih sebagai pelajar.

"Saya mau menyampaikan di sini, bahwa saya pernah mendapatkan nilai merah dan di keluarga saya, kakak saya juara kelas, adik saya juara kelas terus tiba-tiba saya dapat nilai merah," kata Sri Mulyani dalam acara cerita di Kemenkeu Mengajar secara virtual, Jakarta, Senin (26/10/2020).

Pada saat itu, dirinya tidak diperlakukan seperti individu yang salah oleh kedua orang tuanya. Melainkan mendapat pengertian sekaligus semangat yang bertujuan meningkatkan rasa percaya diri.

"Itu saya lihat, kenapa kamu nilai merah, oh ini bagus jadi rapot kamu seperti ada lipstiknya. Jadi saya punya nilai merah bukan dimarah-marahi, kenapa kamu punya nilai merah, apalagi gurunya adalah ternyata temannya ibu saya," ujarnya.

"Jadi mereka tidak pernah menganggap itu suatu skandal. Jadi orang tua saya tahu bagaimana meningkatkan rasa percaya diri anaknya, sehingga mereka tdk easily down. Karena waktu anda growing up itu," tambahnya.

Sri Mulyani menceritakan tumbuh dari kedua orang tua yang merupakan seorang dosen ilmu pendidikan. Hidup bersama sembilan saudaranya, Sri Mulyani selalu diajarkan bisa berfikir secara logis dan mengeksplorasi setiap apapun yang terjadi di dalam hidupnya.

Konsep seperti itu juga, dikatakan Sri Mulyani menjadi alasan orang tuanya tidak membolehkan seluruh anaknya sekolah mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

"Kita dibiarkan berpikir, bereksplorasi, dan logical thinking itu penting banget. Anak-anak ibu saya, nggak boleh satu pun yang boleh masuk IPS. Bukan karena apa-apa, anak saya harus ngerti logikanya dulu. Kalau yang lain mungkin belajar musik. kalau di rumah saya, orang tua saya, ibu bapak saya suka nyanyi, jadi soft skill dilatih melalui interaksi 10 anak dengan orang tua dan sudah punya anak 10 aja, orang tua saya masih ngengeran," kata Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, selama duduk di bangku sekolah dirinya selalu didorong untuk memiliki banyak kegiatan seperti masuk ekstrakulikuler. Dirinya mengaku pernah menjadi bagian dari OSIS, mengikuti voli, karate, basket, pramuka, hingga paduan suara.

Tujuan dari mengikuti ekstrakulikuler, agar orang tuanya tidak terlalu khawatir akan kegiatan 10 anaknya termasuk Sri Mulyani. Selain itu, dirinya juga selalu diwajibkan membawa buku yang bisa dibaca ketika sedang bepergian. Sekalipun dibaca atau tidak sama sekali.

"So you feel like ada buku aja dan sekarang saya tetap sama. itu merupakan kebiasaan yang bagus. or, nyanyi, buku, dan berorganisasi. Itu yang jadi penyebab punya kepekaan, bukan hanya pandai secara akademik," ungkapnya.

Wanita yang akrab disapa Ani mengibaratkan orang tua seperti pemilik kebun.

Di mana setiap anak memiliki keunikan atau pertumbuhan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, orang tua harus memiliki kreativitas pemikiran dalam membentuk anaknya ke depan, dari sisi berpikir, karakter, empati, hingga cara bergaulnya. Hal itu juga yang diterapkan dirinya kepada anak-anaknya.

"Saya ngomong ke anak saya, karena anak saya jadi young parents, suatu saya baca artikel di washington post waktu di AS, parenting dulu itu seperti gardener, setiap anak unik, dia bisa tumbuh. Itu yang disebut sekarang, parenting seperti gardener, you allow the diversity your anak, jangan sampai anak anda sebetulnya cantik seperti anggrek, dipaksa jadi mawar, nggak bisa," ungkapnya.

(hek/dna)