Perusahaan Arab Boikot Produk Prancis, Ini 3 Fakta Pentingnya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 27 Okt 2020 20:30 WIB
bendera Prancis
Foto: Internet
Jakarta -

Pernyataan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron soal Islam berujung kemarahan perusahaan-perusahaan Arab. Sederet perusahaan memboikot produk Prancis dari supermarket.

Tagar mengajak boikot di sosial media seperti #BoycottFrenchProducts dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab #ExceptGodsMessenger juga menggema dan menjadi tren di berbagai negara di semenanjung Arab. Mulai dari Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi, dan Turki. Berikut ini 3 fakta pentingnya.

1 Perusahaan yang Boikot Produk Prancis

Dilansir Aljazeera, Selasa (27/10/2020), di Kuwait sudah ada perusahaan yang memboikot produk Prancis. Ketua dan anggota dewan direksi Al-Naeem Cooperative Society memutuskan untuk menarik semua produk Prancis dan mengeluarkannya dari rak supermarket.

Langkah ini juga diikuti oleh Asosiasi Dahiyat al-Thuhr mereka juga memutuskan memboikot produk Prancis di toko-tokonya.

"Berdasarkan posisi Presiden Prancis Emmanuel Macron dan dukungannya terhadap kartun ofensif terhadap nabi tercinta kami, kami memutuskan untuk menghapus semua produk Prancis dari pasar dan cabang sampai pemberitahuan lebih lanjut," bunyi pernyataan Dahiyat al-Thuhr.

Kemudian di Qatar, ada perusahaan Wajbah Dairy mengumumkan boikot produk Prancis dan berjanji untuk memberikan alternatif. Langkah itu juga dilakukan Al Meera Consumer Goods Company pada setiap tokonya di Qatar.

"Kami telah segera menarik produk Prancis dari rak kami hingga pemberitahuan lebih lanjut," bunyi pernyataan Wajbah Dairy lewat Twitter.

"Kami menegaskan bahwa sebagai perusahaan nasional, kami bekerja sesuai dengan visi yang sejalan dengan agama kami yang benar, adat istiadat dan tradisi kami yang mapan, dan dengan cara yang melayani negara dan keyakinan kami serta memenuhi aspirasi pelanggan kami," bunyi pernyataan lebih lanjut.

2 Penyebab Produk Prancis Diboikot

Sebagai informasi, Macron beberapa waktu lalu mengeluarkan pernyataan kontroversial soal Islam. Dia menyinggung Islam sebagai agama yang berada dalam situasi krisis di seluruh dunia.

Bahkan, Macron awal bulan ini berjanji melawan kelompok Islam yang separatis, dan menurutnya mengancam. Dia pun akan mengambil kendali beberapa komunitas muslim di Prancis.

3 Respons Prancis

Dari catatan detikcom, Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu (25/10) waktu setempat, Prancis meminta agar boikot dihentikan. Mereka mengklaim seruan boikot tidak berdasar.

"Seruan boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh minoritas radikal," kata pernyataan itu.

(ara/ara)