Jatuh Bangun Erick Thohir saat Berbisnis: Jual Mobil hingga Pinjam Duit Teman

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 11:45 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir bahas kasus Asuransi Jiwasraya bersama Komisi VI DPR. Erick buka-bukaan soal penyelesaian sengkarut PT Asuransi Jiwasraya (Persero).
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Erick Thohir bercerita soal jatuh bangunnya selama menjalani karir sebagai pengusaha. Untuk diketahui, dia adalah salah satu pengusaha yang kini ditunjuk menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dia memiliki perusahaan bernama PT Mahaka Media Tbk. Pada 2004-2006, perusahaan tersebut pada waktu itu mengalami over ekspansi hingga terpaksa harus merugi.

"Waktu itu kan mohon maaf kalau di bisnis media kayak kita ini kan orang bayar iklan belakangan, bukan berarti iklannya naik langsung dibayar. Paling 30%, nanti yang 70% di belakang. Kita over ekspansi, waktu itu memang pilihannya pertama mengurangi pegawai atau menutup perusahaan, kedua pinjam dana dari bank, ketiga ya dengan segala upaya kita coba melakukan sources yang bisa kita lakukan," katanya dalam sebuah diskusi online, Rabu (28/10/2020).

Untuk bantu menyelamatkan perusahaan dari jurang kebangkrutan, dirinya melakukan segala cara mulai dari menjual aset-aset berharga seperti mobil, lukisan, hingga sampai harus pinjam uang kepada kerabatnya yang saat ini menjadi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani.

"Waktu itu memang saya harus melepas juga seluruh hobi-hobi saya apakah waktu itu mobil tua, lukisan dan saya ingat juga saya pinjam uang secara pribadi yang waktu itu alhamdulillah dibalikin kalau nggak salah ke Mas Rosan waktu itu saya pinjam satu bulan," tuturnya.

Belajar dari itu, Erick Thohir menyarankan kepada pengusaha saat ini agar tidak takut untuk mengambil risiko selama pandemi virus Corona (COVID-19). Menurutnya, pengusaha harus terus berjuang untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

"Memang tadi kita sendiri sebagai pengusaha itu harus punya risiko. Kita harus bertanggung jawab dengan pegawainya, perusahaannya karena kan memang tugasnya kita pengusaha membuka lapangan kerja selain kita mengembangkan bisnis kita. Jadi di masa-masa krisis itu kita harus berani mengambil keputusan," tuturnya.

"Yakinlah kalau kalian bekerja dengan hati dan produk yang kalian kembangkan itu yakin ada market-nya dan bisa diterima, ya tetap jalan karena itulah challenge kita jadi pengusaha. Beda dengan profesional, kalau profesional itu kan justru dia memikirkan risiko-risikonya, kalau pengusaha harus berani mengambil risiko," pungkas Erick Thohir.

(ang/ang)