Meski Kasus COVID Rendah, Jutaan Warga Afrika Terancam Miskin Ekstrem

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 16:53 WIB
FILE - In this Sunday, Aug. 28, 2016 file photo, a health official administers a polio vaccine to a child at a camp for people displaced by Islamist Extremists, in Maiduguri, Nigeria. Health authorities on Tuesday, Aug. 25, 2020 are expected to declare the African continent free of the wild poliovirus after decades of effort, though cases of vaccine-derived polio are still sparking outbreaks of the paralyzing disease in more than a dozen countries. (AP Photo/Sunday Alamba, File)
Foto: AP Photo/Sunday Alamba
Jakarta -

Afrika diketahui memiliki sedikit kasus pandemi COVID-19 dibandingkan negara di dunia termasuk negara barat. Tingkat kematian juga secara signifikan lebih rendah dan penelitian menemukan meski tingkat penularan tinggi namun sebagian besar kasus terinfeksi tanpa gejala.

Dikutip dari CNN, Rabu (28/10/2020) Afrika memang lolos dari pandemi terburuk dalam hal kesehatan, namun tidak dengan sektor ekonomi akibat pandemi COVID-19. Ekonomi Afrika diketahui bertambah parah.

Sejak pandemi COVID-19 melanda, investasi asing langsung menurun 40%, sekitar 30 juta pekerjaan diperkirakan akan hilang dan 49 juta lebih orang Afrika dapat masuk ke dalam kemiskinan ekstrem karena kehilangan mata pencaharian mereka. Sebagian besar pekerjaan yang terdampak yakni pedagang kaki lima, driver taksi, dan sejenisnya.

Gangguan dalam layanan dan pasokan kesehatan akibat COVID-19 juga diperkirakan akan memperburuk kesehatan yang lebih luas. Kematian HIV, tuberkulosis dan malaria mungkin meningkat sekitar setengah juta orang.

Para pemimpin Afrika harus menjaga komitmen mereka untuk menahan penularan COVID-19 dengan terus menguji dan mengisolasi. Saat negara-negara lain di dunia mulai membuka lagi perekonomian mereka, tentu harus menunjukkan kerendahan hati untuk membantu Afrika, mengingat kondisi ekonomi negara itu tengah berada dalam kritis.

Meskipun Afrika terbilang cepat tanggap saat menangani kasus COVID-19 pertama mereka. Negara itu langsung menindak isolasi dengan ketat dan lebih cepat dibandingkan negara tetangganya Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Sebagian besar negara Afrika juga telah mengadopsi kebijakan pelacakan kontak yang komprehensif dan beberapa telah bertindak lebih jauh untuk mengawasi isolasi semua kontak. Terlepas dari apakah mereka bergejala atau tidak, mereka harus tetap osilasi selama 14 hari setelah terpapar.

Sayangnya, meskipun jumlah kasus kecil dalam banyak kasus, langkah-langkah kontrol yang lebih ketat daripada negara lain Eropa atau Inggris. Negara-negara Afrika mengalami dampak lain akibat pandemi COVID-19, sebab banyak negara tetangga yang melakukan pembatasan ketat yang membuat orang Afrika sulit masuk ke negara lain.

Negara-negara UE dan Inggris telah memberlakukan karantina 14 hari dan pembatasan perjalanan medis lainnya untuk semua penumpang yang datang dari Afrika kecuali untuk Rwanda orang yang ada dalam daftar perjalanan aman UE dan Seychelles dan Mauritius. Langkah-langkah pembatasan itu berisiko memperburuk kerusakan ekonomi yang telah diderita negara mereka.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Tamunya Positif Corona, Presiden Afrika Selatan Isolasi Mandiri"
[Gambas:Video 20detik]