Nasib Porter Stasiun: Alih Profesi hingga Sulit Dapat Pelanggan

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 17:44 WIB
Porter-Pegawai di Stasiun Senen Lakukan Ini Tiap Kereta Berangkat
Ilustrasi/Foto: Marlinda Oktavia Erwanti/detikcom
Jakarta -

Pandemi COVID-19 secara nyata melumpuhkan banyak profesi, salah satunya jasa porter kereta api. Selama pandemi melanda, para porter terpaksa meninggalkan sementara profesinya itu dan banting sering ke profesi lain demi bertahan hidup.

"Selama pandemi waktu awal-awal itu nggak di sini, ada yang ke proyek, jualan, macam-macam lah," ujar Ujang (bukan nama sebenarnya) kepada detikcom, Rabu (28/10/2020).

Saat ini, meski stasiun kereta api sedang ramai-ramainya penumpang tetap tak membawa pengaruh signifikan pada pendapatannya. Ujang yang sudah berjaga dari pagi di stasiun sampai sore ini mengaku masih kesulitan mendapatkan pelanggan.

"Dari pagi sampai sore ini kita semua susah dapat pelanggan, paling ada satu dua," sambungnya.

Alasannya, kata Ujang, karena tak semua kereta api beroperasi seperti sebelum pandemi.

"Ini kan satu doang, Bima (Kereta Api Bima) doang yang operasi, nggak ada lagi yang lain. Jadi mungkin karena itu," tambahnya.

Porter lainnya, Jaja, juga menceritakan pengalaman serupa. Jaja bahkan baru hari ini mulai aktif bekerja sebagai porter. Sebelumnya ia menghabiskan waktu di kampung halamannya mencari penghasilan di sana.

"Ini saya baru hari ini lagi jadi porter, sebelum di kampung, ya jualan, apa aja lah yang penting menghasilkan," ucap Jaja.

Lebih lanjut, Jaja menceritakan biasanya sehari dia bisa mendapat minimal 5 pelanggan. Namun sejak adanya pandemi, untuk dapat 1 pelanggan saja sulit bukan main.

"Sulit mbak di saat begini mah, dapat 1 aja syukur alhamdulillah. Ini dari tadi nggak ada yang mau," sambungnya.

Ujang dan Jaja mengaku tak pernah memasang tarif tertentu. Kesepakatan dibuat berbeda dengan masing-masing pelanggan. Disinggung mengenai pendapatannya sebelum dan saat pandemi, keduanya pun tak menjawab pasti.

"Nggak matokin, seikhlas pelanggannya aja lah," timpalnya.

(ara/ara)