Ekonomi AS Tumbuh 33,1% di Kuartal 3, tapi Jangan Senang Dulu

Anisa Indraini, Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 30 Okt 2020 09:22 WIB
WASHINGTON, DC - DECEMBER 24:  Trash begins to accumulate along the National Mall near the Washington Monument due to a partial shutdown of the federal government on December 24, 2018 in Washington, DC. The partial shutdown will continue for at least a few more days as lawmakers head home for the holidays as Democrats and the Trump administration cannot agree on an amount of funding for border security. (Photo by Win McNamee/Photo by Win McNamee/Getty Images)
Foto: Getty Images

Dalam Back to Normal Index yang dibuat oleh Moody's Analytics dan CNN Business aktivitas ekonomi hampir tidak berubah dalam beberapa minggu. Jutaan orang masih menganggur dan bergantung pada tunjangan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan. Per September, pasar tenaga kerja AS masih turun 10,7 juta pekerjaan dibandingkan dengan masa sebelum pandemi.

Penghasilan pribadi turun di kuartal-III 2020 sebesar US$ 541 miliar karena efek dari berkurangnya stimulus baru. Ketika dampak program stimulus berkurang, hal itu dapat menghambat pemulihan. Sebab ekonomi AS sangat bergantung pada belanja konsumen.

Antara Juli dan September memang tercatat adanya peningkatan besar dalam belanja konsumen, terutama untuk perawatan kesehatan, layanan makanan dan akomodasi, serta mobil yang mendorong lonjakan ekonomi. Namun, secara keseluruhan, pengeluaran untuk layanan masih jauh di bawah level tertinggi sebelum pandemi.

Kepala ekonom AS di Oxford Economics Gregory Daco mengatakan para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi jauh di bawah angka tahunan 10% pada kuartal terakhir tahun ini. Diperlukan waktu hingga akhir 2021 bagi hasil ekonomi untuk kembali ke posisi semula sebelum pandemi COVID-19 melanda.

Tetapi apakah pertumbuhan ekonomi itu benar-benar yang terbesar dan terbaik? Dilansir dari CNN, berikut faktanya:

1. Keuntungan Mengikuti Kerugian yang Besar

Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 AS memang yang tercepat dalam catatan data sejak tahun 1947. Tetapi ekonomi AS menurun pada tingkat tahunan 31,4% dan menjadi penurunan terdalam juga dalam catatan.

Alasan utama AS membukukan rekor PDB pada kuartal ini adalah karena adanya rekor penurunan pada kuartal sebelumnya.
Ketika melihat ke belakang dan dalam konteks yang lebih luas, ekonomi AS masih tumbuh jauh di bawah puncak sebelum pandemi. PDB masih lebih rendah US$ 670 miliar atau setara dengan Rp 9.849 triliun (kurs Rp 14.700/US$) daripada di akhir tahun 2019.

2. Data Menunjukkan Pemulihan Telah Melambat

Pemulihan ekonomi menjadi kabar baik bagi sektor bisnis dan pegawai yang kembali dipekerjakan. Tetapi kabar buruknya, data real-time menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi kehilangan momentum baru-baru ini. Pertumbuhan pekerjaan telah melambat, seperti halnya penurunan klaim pengangguran.

Hal itu sebagian besar karena aliran dana stimulus yang telah memudar. Sebelumnya dalam pandemi, stimulus senilai US$ 1.200 atau Rp 17 juta dari pemerintah dan bantuan sementara sebesar US$ 600 atau Rp 8,8 juta untuk tunjangan pengangguran mingguan membantu banyak keluarga mengatasi krisis.

Upaya-upaya tersebut pada awalnya membantu memicu pemulihan selama musim panas, tetapi sekarang, Kongres mengalami kebuntuan mengenai dana stimulus lebih lanjut.

Sekarang, kasus virus Corona melonjak lagi, menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang lebih besar, serta risiko ekonomi. Mengingat tantangan-tantangan tersebut, para ekonom menilai kecil kemungkinan ekonomi akan pulih sepenuhnya pada akhir tahun.

3. Orang dan Bisnis Masih Dirugikan

Restoran hanya menampung sekitar setengah dari pengunjung. Wisatawan yang diproses melalui pos pemeriksaan TSA masih turun lebih dari 50% dari tahun lalu. Hunian hotel, menurut STR, turun 31% dari tahun lalu.

Penjualan box office kurang dari sepersepuluh dari sebelum pandemi. Jam kerja karyawan di bisnis kecil masih lebih dari 20% di bawah level mereka.

Indeks Kembali ke Normal yang dibuat oleh CNN Business dan Moody's Analytics menunjukkan secara keseluruhan bahwa aktivitas ekonomi hampir tidak berubah dalam sebulan terakhir.

Sementara itu, beberapa perusahaan baru saja memulai gelombang baru PHK. Disney (DIS), United Airlines (UAL), American Airlines (AAL) dan Charles Schwab (SCHW) telah mengumumkan PHK massal.

Jutaan keluarga terus berjuang dengan dalam krisis makanan. Menurut data yang dikumpulkan melalui survei Census Pulse, pertengahan Oktober terdapat 23 juta rumah tangga tidak memiliki cukup makanan, naik dari 14 juta sebelum pandemi melanda awal Maret.

Halaman

(fdl/fdl)