Jalan Bisnis Charlie Hebdo di Balik Pernyataan Kontroversial Macron

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 01 Nov 2020 18:01 WIB
Police officers and firefighters gather in front of the offices of the French satirical newspaper Charlie Hebdo in Paris, after armed gunmen stormed the offices leaving
Foto: The Independent
Jakarta -

Kontroversi kartun karikatur Nabi Muhammad pada majalah Charlie Hebdo terus bergulir dan menuai protes keras dari umat muslim di banyak negara. Hal itu ditambah sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang enggan mencopot karikatur tersebut.

Lalu, bagaimana perjalanan bisnis penerbit Charlie Hebdo?

Dikutip dari Independent, Minggu (1/11/2020), Charlie Hebdo sendiri merupakan majalah satir mingguan Prancis berhaluan kiri. Majalah ini dikenal bernada provokatif dan anti religius, serta menampilkan kartun, laporan, polemik dan lelucon.

Charlie Hebdo sendiri didirikan oleh staf majalah Prancis lainnya Hara-Kiri. Majalah tersebut dilarang karena 'menyinggung selera publik' setelah menerbitkan halaman depan untuk mengejek kematian Presiden Prancis Charles de Gaulle.

Tim tersebut mendirikan Charlie Hebdo pada 1969 dan diedit oleh Francois Cavanna hingga majalah tersebut tutup pada tahun 1981. Majalah ini kembali dibangkitkan pada tahun 1992 dan diedit oleh Philippe Val hingga tahun 2009. Stephanie Carbonnier, yang dikenal sebagai Charb mengambil alih jabatan editor pada tahun 2012.

Selama beroperasi, majalah ini beberapa kali mengeluarkan edisi kontroversial. Pada tahun 2006, Charlie Hebdo terbit dengan headline 'Mohammed overwhelmed by the fundamentalists' dan mencetak ulang karikatur Nabi Muhammad yang awalnya muncul di surat kabar Denmark.

Di tahun 2011, majalah ini menerbitkan edisi khusus kartun Nabi Muhammad dan tertulis di sampulnya 'A thousand lashes if you don't die laughing'. Bukan hanya itu, majalah itu berganti nama sementara dengan nama 'Charia Hebdo'. Charia merupakan istilah Prancis untuk syariah.

Buntut dari penerbitan edisi tersebut ialah kantor dua lantai majalah itu dibom. Sementara, stafnya diancam dibunuh. Situs publikasi juga diretas dan diganti dengan gambar Mekah dengan tulisan 'The is no good but Allah'.

Tahun 2012, Charlie Hebdo kembali menerbitkan lebih banyak gambar Nabi Muhammad dan memainkan demonstrasi seputar film anti Islam yang diproduksi AS di mana saat itu berjudul 'Innocence of Muslims'.

(acd/dna)