Liputan Khusus

Bisnis Ikan Cupang Bakal Langgeng atau Cuma Musiman?

Soraya Novika - detikFinance
Minggu, 01 Nov 2020 21:31 WIB
Pengunjung mengamati ikan cupang yang dipajang di Bazar ikan Cupang di Kawasan Pasar Gembrong Baru, Jakarta, Jumat (30/10). Bazar ikan cupang ini digelar mulai hari ini hingga 30 November 2020.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ikan cupang tengah digandrungi banyak orang saat ini. Bahkan, orang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk memiliki ikan dengan nama latin Betta sp tersebut.

Tak jarang pula, ada orang akhirnya terjun ke bisnis ikan cupang dengan harapan meraih untung dari tren 'gila' ikan cupang ini. Bagaimana prospeknya?

Pakar Pemasaran Yuswohady menilai, hebohnya ikan cupang sendiri tak lepas dari pandemi Corona yang memaksa orang banyak menghabiskan waktu di rumah. Menurutnya, kondisi itu membuat orang bosan bahkan hingga stres.

"Ini kan menjadi heboh karena stay at home, karena pandemi orang itu memang nggak cuma ikan hias jadi di seluruh dunia surveinya pet, binatang piaraan selama pandemi meningkat, penjualan pet meningkat, binatang piaraan meningkat, karena di masa pandemi itu orang pertama boring, terus stres, bahkan ada yang depresi," paparnya kepada detikcom, Rabu (28/10/2020).

Menurutnya, ikan cupang semakin populer karena keberadaan influencer hingga para artis yang turut memelihara ikan cupang. Sehingga, tercipta hubungan saling menguntungkan antara influencer atau artis dengan produsen atau pebisnis.

Dari sisi influencer atau artis, mereka diuntungkan dengan semakin banyaknya pengikut atau followers. Di sisi lain, pebisnis ikan cupang juga diuntungkan karena semakin banyaknya peminat.

"Jadi saling menguntungkan si artis tambah terkenal dengan memelihara ikan cupang, di satu sisi memelihara itu followernya, nonton IG-nya, semua yang lain ikut-ikutan jadi sesuatu yang masif," jelasnya.

Namun begitu, dia menilai, hebohnya ikan cupang tidak bertahan lama alias musiman. Tidak tahan lama di sini artinya jangka pendek, bisa 6 bulan, setahun ataupun dua tahun. Setelah heboh, maka tren ikan cupang akan kembali sedia kala.

Dia menjelaskan, sifat natural tren yang cepat 'meledak' maka akan cepat surut. Sebab, begitu tren meledak maka informasi mengenai sesuatu juga banyak sehingga rasa penasaran orang akan terpenuhi.

"Semakin medianya semakin masif, makin besar itu proses hebohnya, makin sebentar, malah nggak ada sosmed nggak heboh banget, tapi lama. Karena begitu orang tahu, rasa tahunya terpenuhi, nggak pensaran kemudian terjadi biasa," ungkapnya.

Namun, ia menilai, di tengah ramainya tren cupang ini menjadi peluang untuk bisnis. Dengan catatan, kemudian masuk ke bisnis lain yang heboh.

"Right in the way justru pada masa-masa kaya begini jadi bisnis, nggak sustain tapi bagus untuk survival di masa pandemi. Jadi sekarang banyak temen-temen kena layoff salah satu menjadi alternatif bagus adalah bisnis di bidang-bidang yang heboh di masa pandemi," ujarnya.

(dna/dna)