Heboh Seruan Boikot Produk Prancis, Apa Dampaknya buat RI?

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 02 Nov 2020 17:13 WIB
Para pengunjuk rasa memegang spanduk dan meneriakkan slogan-slogan selama demonstrasi yang menyerukan boikot produk Prancis dan mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron di Dhaka pada 30 Oktober 2020. (AFP Photo)
Foto: Para pengunjuk rasa memegang spanduk dan meneriakkan slogan-slogan selama demonstrasi yang menyerukan boikot produk Prancis dan mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron di Dhaka pada 30 Oktober 2020. (AFP Photo)
Jakarta -

Beberapa negara termasuk Indonesia menyerukan aksi boikot produk Prancis. Hal itu menyusul pernyataan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang menyebut Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di dunia.

Menanggapi itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menyayangkan lontaran tersebut. Menurutnya, sebagai Kepala Negara harus mengeluarkan pernyataan yang lebih bijak dan tidak mengedepankan emosi.

"Memang kita protes jelas kepada Macron sebagai Kepala Negara dia melakukan pidato. Di sisi lain juga bisa dipahami juga reaksi berlebihan (Presiden Prancis) terhadap penusukan tidak tepat juga. Jadi seharusnya diambil langkah proporsional tapi tidak emosional," ujarnya saat ditemui di kantornya, Gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (2/11/2020).

Terkait langkah pemboikotan produk Prancis, menurutnya boleh saja sebagai bentuk luapan emosi. Namun terkait dampaknya ke Indonesia, dia menilai tidak terlalu berpengaruh.

"Tidak pengaruh juga. Tapi ini kan luapan emosi ya boleh saja. Tapi kenyataannya tidak banyak mempengaruhi situasi," katanya.

Menurutnya, produk Prancis yang ada di Indonesia tidak terlalu banyak. Ditambah sangat sedikit masyarakat yang mengetahui produk dan makanan asal Prancis yang dijual di Indonesia.

"Nggak banyak juga kan produk Prancis mana saja sih. Ada satu produk misalnya makanan dan minuman misalnya gitu, tapi nggak banyak orang tahu juga," jelasnya.

Kemudian, menurutnya saat ini merupakan era keterbukaan di pasar global. Di mana satu perusahaan yang ada di daerah tersebut belum tentu pemiliknya juga berasal dari negara yang sama.

"Perusahaan itu mungkin perusahaannya dari Prancis tapi pemiliknya global bisa saja, pemilik Prancis lebih sedikit, global lebih banyak. Jadi menurut saya kurang efektif juga," imbuhnya.

(eds/eds)