Indonesia Resmi Resesi, Apa Bedanya dengan Krisis dan Depresi Ekonomi?

ADVERTISEMENT

Indonesia Resmi Resesi, Apa Bedanya dengan Krisis dan Depresi Ekonomi?

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 05 Nov 2020 12:23 WIB
Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal-I 2018 tumbuh 5,2%. Pertumbuhan itu didukung dengan capaian penerimaan pajak maupun nonpajak.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indonesia resmi resesi. Namun bukan satu-satunya momok menakutkan bagi perekonomian. Ada yang namanya krisis ekonomi dan depresi ekonomi. Apa bedanya ketiga hal tersebut?

Berdasarkan catatan detikcom, sederhananya resesi ekonomi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Yang terjadi di Indonesia, berdasarkan pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi RI pada kuartal II minus 5,32% dan kuartal III minus 3,49%. Dampak resesi ekonomi mulai dari berkurangnya lapangan pekerjaan dan meningkatnya angka kemiskinan.

Sementara krisis ekonomi adalah keadaan yang mengacu pada penurunan kondisi ekonomi drastis yang terjadi di sebuah negara. Penyebab krisis ekonomi adalah fundamental ekonomi yang rapuh antara lain tercermin dari laju inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang macet.

Penyebabnya juga dikarenakan beban utang luar negeri yang melimpah dan melebihi kemampuan bayar, investasi yang tidak efisien, defisit neraca pembayaran yang besar dan tidak terkontrol.

"Sementara krisis ekonomi sendiri dipahami sebagai adanya shock pada sistem perekonomian di suatu negara yang menyebabkan adanya kontraksi pada instrumen perekonomian di negara tersebut, seperti nilai aset ataupun harga," kata Vice President Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT