Meski Resesi, Benarkah Ekonomi RI Lebih Baik dari Negara Lainnya?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 08 Nov 2020 18:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Ekonomi Indonesia masuk resesi setelah pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 kembali terkontraksi -3,49%. Meski begitu pemerintah selalu menekankan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lain. Benarkah itu?

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Tauhid mengatakan, torehan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 sejatinya lebih tinggi dari perkiraan pemerintah. Pemerintah sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi III-2020 terkoreksi -3%.

"Ini jadi pertanyaan bahwa apa yang diperkirakan, yang disampaikan kenyataannya jauh lebih buruk. Itu jadi pertanda banyak sikap optimisme yang saya kira harus melihat lebih realistis lagi," ucapnya dalam acara konferensi pers online INDEF, Minggu (8/11/2020).

Ahmad kemudian menelusuri apakah benar kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini resesi masih lebih baik dengan negara lain. Jika dilihat dari data pemulihan ekonomi RI dibandingkan dengan negara-negara mitra dagang Indonesia ternyata masih kalah jauh.

Indonesia dari torehan ekonomi di kuartal II-2020 -5,32% ke 3,49% di kuartal III-2020, perubahan dari pertumbuhannya 34,4%.

Nah jika dilihat dari Tiongkok dalam periode yang sama perbaikannya mencapai 53,1%. Tercatat ekonomi China di kuartal II-2020 tumbuh 3,2%, lalu di kuartal III-2020 positif 4,9%.

Kemudian dengan mitra dagang Amerika Serikat (AS) juga kalah jauh yang perbaikannya mencapai 67,8% meski masih dalam teritori negatif. Pada kuartal II-2020 ekonomi AS -9%, sementara di kuartal III-2020 -2,9%.

Lalu jika dilihat dengan negara mitra dagang lainnya juga perbaikan ekonomi RI yang saat ini resmi mengalami resesi masih kalah jauh. Singapura 47,4%, Korea Selatan 51,9%, Hong Kong 62,2%, Uni Eropa 71,9%.

"Jadi kalau kemarin BPS menyampaikan ada satu yang kurang bahwa ternyata perbaikan ekonomi kita itu jauh lebih lambat dibandingkan negara mitra dagang kita. Ini menjadi catatan bahwa kita tidak pernah belajar dari negara-negara mitra dagang kita untuk memperbaiki kondisi ekonomi kita," ucapnya.

(das/dna)