COVID Ganas Lagi, Ekonomi Inggris Bisa Kembali ke Dasar Jurang Resesi

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 09:43 WIB
Inggris masuk ke dalam jurang resesi. Ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi Inggris pada kuartal II 2020 yang minus hingga 20,4%, dan kuartal I minus 2,2%.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Dalam perjuangannya keluar dari jurang resesi, Inggris sepertinya akan kembali terperosok. Ekonomi Inggris sendiri dikabarkan telah masuk ke jurang resesi sejak September lalu.

Melansir CNN, Senin (9/11/2020), Bank of England (BoE) telah memompa lagi £ 150 miliar atau US$ 195 miliar ke dalam ekonomi Inggris. Hal itu dilakukan setelah memperingatkan resesi double-dip karena pandemi virus Corona yang kembali tinggi dan prospek yang tidak pasti karena Brexit.

Bank sentral Inggris itu mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka akan mempertahankan suku bunga pada level terendah 0,1%. Namun mereka akan meningkatkan pembelian obligasi pemerintah Inggris menjadi £ 875 miliar (US$ 1,1 triliun).

PDB Inggris di kuartal IV-2020 juga sepertinya akan kembali tertekan lantaran kembali tertahannya konsumsi masyarakatnya. Hal itu lantaran kasus COVID-19 yang kembali meningkat pesat di negara itu.

Pemerintah Inggris kembali melakukan lockdown nasional pada Kamis lalu. Restoran, bar dan bisnis non-esensial ditutup hingga 2 Desember.

Inggris melaporkan kenaikan kasus harian terbesar kedua dalam kasus COVID-19 pada hari Rabu dengan 25.177 infeksi baru yang tercatat dalam 24 jam.

Dalam upaya untuk meredakan pukulan terhadap rumah tangga dan bisnis, Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak pada hari Kamis mengumumkan bahwa pemerintah Inggris akan memperpanjang program cuti hingga Maret 2021.

Pemerintah akan membayar 80% dari gaji karyawan perusahaan yang terpaksa ditutup. Bantuan pembayaran gaji itu dibatasi maksimal £ 2.500 (US$ 3.270) per bulan.

BoE menilai lockdown serta pembicaraan yang terselesaikan tentang kesepakatan perdagangan pasca-Brexit dengan Uni Eropa membuat prospek ekonomi Inggris semakin tak pasti. Tanpa kesepakatan dengan UE, perusahaan yang berbasis di Inggris menghadapi tarif, kuota, dan hambatan lain yang besar untuk melakukan bisnis dengan pasar ekspor terbesar mulai 1 Januari.

Bank sentral memperkirakan ekonomi Inggris akan menyusut 2% pada kuartal IV-1010, dan -11% dalam sepanjang 2020.

Dalam jangka panjang, pandemi akan mengurangi output ekonomi Inggris sekitar 1,75%. PDB diperkirakan tidak akan melebihi level yang dicapai pada akhir 2019 hingga kuartal I-2022.



Simak Video "Rita Ora Minta Maaf Usai Gelar Pesta saat Lockdown"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)