3 Dampak Kalau Orang Tajir RI Pelit Belanja Saat Resesi

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 20:30 WIB
Roda ekonomi ITC Cempaka Mas kembali bangkit setelah cukup lama berjuang menghadapi penurunan ekonomi saat pandemi COVID-19.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Peran orang kaya atau orang tajir dianggap cukup krusial membantu Indonesia pulih dari resesi. Pemerintah dalam hal ini diwakilkan Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (Komite PC-PEN) Raden Pardede bahkan optimis ekonomi RI di kuartal IV-2020 mendatang bakal tumbuh positif bila orang tajir tadi tidak lagi pelit untuk berbelanja.

Berikut 3 gambaran kondisi ekonomi Indonesia kalau orang tajir masih pelit belanja selama resesi:

1. RI Bisa Depresi

Raden merujuk ekonomi Inggirs, John Maynard Keynes, bahwa dalam situasi resesi kalau kelas menengah terlalu berhemat perekonomian nasional akan jatuh pada depresi.

"Jadi, kami imbau kelompok kelas menengah atas ini jangan terlalu berhemat, bahaya. Bersikap lah rasional dan dengan mematuhi protokol kesehatan aktivitas belanja dan wisata bisa dilakukan kok," kata Raden Pardede.

Di pihak lain, dia memastikan pemerintah akan melanjutkan berbagai program perlindungan sosial agar di kuartal IV pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik dari kuartal III yang minus 3,49%. Khusus untuk UMKM, selain sudah ada bantuan sosial produktif, juga ada Kredit Usaha Rakyat, dan program lainnya.

"Sampai akhir Oktober serapan anggaran COVID sudah 86-87%, dan serapan belanja pemerintah bisa 100 persen pada akhir 2020," kata Raden Pardede.

Lanjut ke halaman berikutnya>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2