Badai PHK di Tengah Resesi

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 12 Nov 2020 20:45 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di tengah resesi kembali muncul ke publik. Kali ini datang dari toko serbaada (department store) di bawah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) yang dikabarkan telah melakukan pemotongan gaji dan berencana melakukan PHK kepada ratusan karyawannya.

Demikian menurut pengakuan Serikat Pekerja di bawah MAP Group, yakni Onny Assad, yang merupakan Ketua Bidang Hukum Serikat Pekerja Industri Ritel Indonesia. Dia mengatakan sebanyak 2.500 karyawan di SOGO sudah mengalami pemotongan gaji sepihak.

"Di SOGO sendiri ada 2.500 yang dipotong gajinya. Yang dirumahkan untuk dirancang PHK ada sekitar 300 orang. Itu jumlah hanya SOGO saja, untuk MAP Group mungkin lebih besar lagi," kata Onny dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (11/11/2020).

Manajemen, lanjut dia, juga menyurati karyawan untuk secara 'sukarela' mengajukan PHK kepada perusahaan dengan imbalan 1 kali PMTK.

"Alasan pandemi COVID-19 ini terkadang digunakan oleh pengusaha secara sepihak tanpa membicarakannya dan persetujuan karyawan dan atau serikat pekerja yang ada, sehingga terlihat bahwa apa yang dilakukan oleh manajemen melampaui dan melanggar peraturan tenaga kerja," tegasnya.

Serikat pekerja, dijelaskan Onny, telah beberapa kali melayangkan surat kepada manajemen untuk membicarakan keputusan manajemen yang menurutnya melanggar hukum.

"Serikat pekerja menganggap apa yang dilakukan oleh manajemen sekarang adalah karena manajemen tidak menjalankan manajemen perusahaan secara baik, terutama menjalankan ketentuan Pasal 70 UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), yang mewajibkan untuk menyimpan dana cadangan sebesar 20 persen dari keuntungan yang diperoleh tiap tahun buku yang akan digunakan sebagai antisipasi kerugian yang mungkin akan dialami di kemudian hari dan tidak mau mengerti tentang tanggung jawab sosial sebagaimana yang diamanahkan oleh Pasal 74 UUPT tersebut," ujarnya.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali menghantam Tanah Air. Kali ini, sebuah pabrik sepatu di Cikupa, Tangerang, melakukan PHK terhadap 1.800 karyawannya. Laporan itu diterima oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Tangerang.

"Sekitar 1.800-an. Sedang diproses PHK-nya," ungkap Kepala Seksi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) Disnaker Kabupaten Tangerang Hendra ketika dihubungi detikcom, Kamis (5/11/2020).

Namun ia enggan menyebutkan nama pabrik tersebut. Ia mengatakan PHK ini dilakukan karena perusahaan menelan kerugian yang besar akibat dampak pandemi virus Corona (COVID-19) yang menihilkan pesanan ke pabrik.

"Iya, informasinya karena pandemi COVID-19, karena nggak ada order, jadi nggak bisa bayar (karyawan). Sudah mengalami kerugian perusahaannya," tutur Hendra.

Dia menjelaskan 1.800 karyawan itu hanya akan bekerja sampai akhir November 2020 ini.

Saat ini, Disnaker Kabupaten Tangerang sedang meminta data lengkap masing-masing karyawan yang di-PHK. Nantinya, data itu akan digunakan untuk mendaftarkan korban PHK pada program-program bantuan pemerintah.

Hendra mengatakan para karyawan yang kena PHK tersebut sudah dipastikan akan mendapatkan pesangon. "Jadi divisi-divisi yang sudah tidak operasional ya sudah selesai. Mereka dilakukan pembayaran juga, pembayaran bertahap. Informasinya mereka dapat pesangon," tambahnya.

Penyebab PHK massal di Tengah Pandemi

Baru-baru ini gerai Sogo hingga Seibu yang berada di bawah MAP diterpa kabar PHK massal. Kira-kira apa alasannya ya?

Menurut Bank Indonesia (BI), penjualan ritel lesu sedang lesu, tercermin di Indeks Penjualan Riil (IPR) yang negatif 8,7% pada September 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Namun jika dibandingkan Agustus 2020 yang -9,2% YoY membaik meski masih negatif.

Penjualan ritel telah mencatatkan pertumbuhan negatif selama 10 bulan beruntun, sejak Desember 2019. Selama 10 bulan tersebut, rata-rata pertumbuhan penjualan ritel adalah -9.08% per bulan.

Selama kuartal III-2020, penjualan ritel tumbuh -10,1% YoY. Membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang -18,2%, tetapi lagi-lagi masih minus.

Kabar kurang sedap belum berhenti sampai di situ. BI memperkirakan penjualan ritel pada Oktober 2020 masih tumbuh negatif, bahkan lebih parah dibandingkan bulan sebelumnya yaitu -10% YoY. "Sejumlah komoditas seperti kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta barang budaya dan rekreasi diperkirakan mengalami penurunan penjualan," sebut keterangan tertulis BI.

Dalam tiga bulan mendatang (Desember 2020), dunia usaha memperkirakan penjualan ritel naik yang digambarkan dengan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) sebesar 157,2. Namun penjualan dalam enam bulan ke depan (Maret 2021) diperkirakan turun dengan IEP 159,4.

Data terbaru ini memberi gambaran suramnya industri ritel Tanah Air. Bukan hanya di Indonesia, situasi serupa juga terjadi di banyak negara.

Mengutip data Statista, nilai penjualan ritel di seluruh dunia pada 2020 diperkirakan US$ 23,36 triliun. Turun 5,73% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penyebabnya apa lagi kalau bukan pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/COVID-19). Pandemi virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini membuat dunia berantakan.

Virus corona menyebar dengan kecepatan dan cakupan yang luar biasa. Bermula dari sebuah kota di Negeri Panda, virus ini sudah 'membobol' lebih dari 200 negara dan teritori di seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di seluruh negara per 10 November 2020 adalah 50.676.072 orang. Bertambah 427.551 orang (0,85%) dibandingkan hari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir (28 Oktober-10 November 2020), rata-rata pasien baru bertambah 514.745 orang per hari. Melonjak dibandingkan 14 hari sebelumnya yaitu 406.421 orang per hari.

Akibatnya, dunia masih belum bisa normal. Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) masih jadi andalan untuk meredam penyebaran virus corona.

Dengan pembatasan sosial, miliaran warga dunia diminta sebisa mungkin #dirumahaja. Bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Jangan keluar rumah kecuali untuk urusan yang maha mendesak.

Seiring perjalanan, social distancing memang dikendurkan dan dunia memasuki masa reopening, new normal, Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau terserah apa sebutannya. Namun bukan berarti kembali seperti sebelum pandemi, masih ada pembatasan di sana-sini.

Misalnya di Indonesia, pusat perbelanjaan memang sudah boleh beroperasi. Akan tetapi kapasitas pengunjung dibatasi, maksimal 50%.

Well, 50% pengunjung memang lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Namun itu masih belum cukup memenuhi skala ekonomi yang optimal.

Akibatnya, dunia usaha masih harus melakukan efisiensi yang salah satunya adalah PHK. Industri ritel yang sangat terpukul menjadi salah satu yang paling banyak melakukan PHK.

Mengutip kajian Organisasi Buruh Dunia (ILO), sektor perdagangan ritel dan partai besar adalah industri yang sangat rawan terkena dampak pandemi virus corona. Sektor usaha lain yang juga rentan adalah akomodasi makan-minum, real estate, dan manufaktur.

"Krisis COVID-19 mempengaruhi seluruh sektor usaha karena permintaan yang turun drastis. Pekerja di sektor ritel juga merasakan dampaknya. Banyak gerai yang terpaksa tutup karena upaya pengendalian wabah, dan konsumsi juga melambat," sebut kajian ILO.

Oleh karena itu, tidak heran tsunami PHK masih menerjang sektor perdagangan ritel. Selagi virus corona masih bergentayangan, akan sulit bagi sektor ini untuk bisa bangkit.

(dna/dna)