3 Jurus Mendag Tekan Selisih Harga Pangan Antarwilayah

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 18 Nov 2020 18:45 WIB
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengatakan, harga bahan pangan pokok di Indonesia cenderung mengalami fluktuasi. Harga bahan pangan pokok antar wilayah atau daerah di Indonesia juga cenderung mengalami disparitas alias perbedaan yang tinggi. Misalnya saja harga bahan pangan pokok di Jakarta dan Papua yang selisihnya cukup tinggi.

Oleh sebab itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyiapkan 3 jurus untuk menekan disparitas harga antardaerah. Berikut 3 jurusnya:

1. Gerai Maritim

Program ini adalah gebrakan baru Kemendag yang memanfaatkan Tol Laut. Ada 14 Depo Maritim yang dibangun di 14 Kabupaten yang masuk di wilayah terpencil, terluar, dan perbatasan melalui pemanfaatan Penyelenggaraan Pelayanan Publik untuk angkutan barang oleh Kemenhub dengan tarif kompensasi.

"Program ini merupakan bagian dari Tol Laut di mana pemerintah memberi subsidi biaya port to port rata-rata 40-50% dari biaya freight per kontainer," ungkap Agus dalam webinar Jakarta Food Security Summit (JFSS) 2020, Rabu (18/11/2020).

Dengan program ini, kapal yang berlalu-lalang juga membawa komoditas juga akan membawa muatan balik, sehingga ongkos pengiriman dari daerah tersebut akan lebih rendah.

"Pemerintah juga melakukan konsolidasi pedagang dengan business matching antara pengusaha di daerah dengan melibatkan industri yang memerlukan bahan baku. Oleh sebab itu, ongkos transportasi yang selama ini freight tinggi karena tidak ada muatan balik, untuk optimalisasi muatan balik pemerintah membangun Depo Gerai Maritim. Fungsinya sebagai tempat penyimpanan sementara barang setelah diturunkan dari kapal sebagai muatan berangkat, selain itu bisa juga menampung produk unggulan dari daerah sebagai muatan balik," terang Agus.

2. Pasar Lelang Komoditas

Program ini bertujuan untuk memotong rantai pasok yang terlalu panjang, yang biasanya menyebabkan biaya distribusi semakin besar, sehingga harga di tingkat konsumen mahal.

"Latar belakang munculnya pasar lelang komoditas karena panjangnya rantai pasok komoditas yang menyebabkan harga jual petani cenderung lebih rendah, dan harga beli masyarakat menjadi tinggi sehingga menyebabkan ekonomi biaya tinggi," tutur Agus.

Melalui pasar lelang komoditas, petani yang menjual hasil panennya akan langsung bertemu dengan pembeli, sehingga rantai pasok yang biasaya melalui tengkulak, berlapis-lapis distributor pun terpotong. Selain itu, kepastian pasar atau pembeli juga akan dirasakan petani.

"Manfaat yang dapat dirasakan oleh petani antara lain meningkatkan kesejahteraan, adanya kepastian pasar, fokus pada proses produksi, harga yang kompetitif, dan sebagainya. Sedangkan, bagi pelaku usaha adalah kepastian ketersediaan komoditas, pengaturan ketersediaan, harga yang kompetitif, serta efisiensi perdagangan, dan sebagainya. Akhir dari pasar lelang komoditas ini diharapkan dapat menekan ekonomi biaya tinggi yang dapat menyebabkan inflasi," imbuh Agus.

3. Sistem Resi Gudang (SRG)

SRG adalah kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan, pengalihan, penjaminan, dan penyelesaian transaksi Resi Gudang. Berdasarkan Undang-undang (UU) nomor 9 tahun 2006, Resi Gudang adalah dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di Gudang yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang.

Artinya, SRG ini juga merupakan salah satu instrumen pembiayaan yang dapat dimanfaatkan petani yang menjaminkan hasil panennya ke pengelola gudang. Dengan SRG ini, petani bisa menyimpan komoditas hasil panen yang biasanya melimpah untuk menjadi jaminan pembiayaan.

"Lahirnya SRG dilatarbelakangi adanya penurunan permintaan atau penyerapan komoditas, harga pasca panen komoditas rendah, akses pembiayaan, dan akses pasar terbatas. Hal-hal inilah yg menjadikan petani atau nelayan semakin terpuruk," ujar Agus.

Untuk memaksimalkan pemanfaatan SRG, Kemendag mengusulkan bunga bagi peserta SRG yakni 6% dapat diturunkan, dan plafon kredit bisa dinaikkan dari Rp 75 juta.

"Kaitannya stimulus sektor perdagangan di masa pandemi, kami telah mengusulkan juga kepada Menko Perekonomian, agar beban bunga bagi peserta SRG dapat diturunkan di bawah 65, dan plafon kreditnya bisa dinaikkan dari Rp 75 juta," imbuh Agus.

Selain itu, melalui Permendag nomor 33 tahun 2020, Agus menambahkan komoditas yang bisa ikut dalam SRG menjadi 18 komoditas antara lain gabah, beras, jagung, kopi, kakao, karet, garam, lada, ikan, pala, bawang merah, rotan, kopra, teh, rumput laut,gambir, timah, dan ayam karkas utuh.

(dna/dna)