Harga Gula Naik Akibat Ulah Nakal Pedagang
Rabu, 25 Jan 2006 15:27 WIB
Yogayakarta - Naiknya harga gula saat ini tak hanya diakibatkan oleh kenaikan harga gula di pasaran internasional saja. Namun kenaikan harga gula juga diakibatkan oleh ulah nakal para pedagang.Hal itu dikemukakan oleh Agus Pakpahan, Deputi Menteri BUMN bidang Agro, percetakan kertas dan penerbitan Kementrian BUMN saat membuka acara seminar Success Story Industri Pergulaan di Auditoprium Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) di Jl Urip Sumoharjo Yogyakarta, Rabu (25/1/2006)."Memang selain dipengaruhi situasi pasar dunia, kenaikan harga gula didalam negeri juga diakibatkan oleh permainan para pedagang," katanya.Untuk menstabilkan harga gula kata Agus, pemerintah telah meminta kepada Bulog untuk melaksanakan fungsinya sebagai buffer stock. Dengan demikian permainan para pedagang gula impor dapat terminimalisasi dan terkendali sehingga tidak mengganggu produksi gula nasional.Diakui Agus harga gula di dalam negeri memang acap kali naik turun. Namun naik turunnya harga gula itu tidak terlepas dari situasi harga gula di pasar dunia. Saat ini harga gula internasional juga naik sekitar 2 dolar. "Jadi selain oleh ulah pedagang besar, naik turunnya harga gula Indonesia juga tidak terlepas dari harga pasaran dunia," katanya.Agus mengatakan ketika pemerintah menerapkan kebijakan impor bebas untuk gula sebelum tahun 2002 mengakibatkan gula impor susah dikendalikan. Namun setelah tahun 2002 hingga sekarang ini gula impor sudah terkendali dan produksi gula nasional juga sudah meningkat, dari 1,5 juta ton menjadi di atas 2,2 juta ton/tahun pada tahun 2005."Jadi untuk mengatasi masalah tersebut, solusinya tidak ada cara lain kecuali meningkatkan kapasitas produksi gula nasional," tegas dia.Menurut Agus ada dua cara untuk meningkatkan kapasitas produksi gula. Pertama, dengan melakukan ekspansi atau menambah dari kapasitas yang ada saat ini. Kedua, membangun pabrik gula yang baru di beberapa daerah.Seperti yang dilakukan saat ini dengan membangun pabrik gula di Banyuwangi Jawa Timur. Mesin-mesin produksi didatangkan dari pabrik gula Pelaihari Kalimantan serta mendatangkan mesin dan komponen mesin yang baru."Dengan adanya pabrik baru itu kita berharap produksi meningkat di atas 5 ribu ton/hari. Bila pabrik di Banyuwangi itu sudah beroperasi bisa menghasilkan 70 ribu ton/hari. Investasi yang ditanam juga besar sekali sekitar Rp 700 miliar," kata Agus.Sementara itu Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI), Rama Prihandana menambahkan, peningkatkan produksi beberapa pabrik gula yang ada saat ini diharapkan mampu menambah produksi gula nasional sehingga dapat mengurangi gula impor. "Saat ini adalah momentum yang baik bagi kebangkitan industri gula setelah tahun 1998-2002 lalu, industri gula terpuruk. Biarlah itu menjadi kenangan pahit kita," kata Rama.
(qom/)











































