Stimulus Mandek, 12 Juta Pengangguran AS Terancam Gigit Jari

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 11:19 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih berada di level Rp 14.100. Dolar AS sempat tersungkur dari level Rp 14.500an hingga ke Rp 14.119 pada Sabtu pekan lalu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pemerintah Amerika Serikat (AS) hingga saat ini belum menyetujui kesepakatan bantuan baru bagi yang terdampak pandemi. Hal itu akan menyebabkan 12 juta pekerja tidak lagi mendapatkan tunjangan pengangguran pada 26 Desember 2020.

Dikutip dari CNBC, Jumat (20/11/2020) The Century Foundation (TCF) mengatakan pemerintah AS harusnya memperpanjang dua program bantuan pengangguran yang akan berakhir 26 Desember mendatang.

Dua program itu Program Bantuan Pengangguran Pandemi atau The Pandemic Unemployment Assistance (PUA) dan Kompensasi Pengangguran Darurat Pandemi atau Pandemic Emergency Unemployment Compensation (PEUC). Sekitar 21 juta orang telah mengikuti dua program tunjangan pengangguran itu.

Harapan stimulus makin pudar saat mengetahui di hari Thanksgiving anggota parlemen akan libur. Para ekonom telah lama memperingatkan jika stimulus baru tidak segara dikeluarkan akan membuat jutaan rumah tangga tidak dapat membayar kebutuhan dasar seperti makanan dan sewa.

Sebelumnya DPR AS telah mengesahkan Undang-undang (UU) Hero senilai US$ 3 miliar pada Mei lalu dan sepakat menggelontorkan stimulus US$ 2,2 triliun pada bulan lalu. Kedua kesepakatan itu untuk memperpanjang tunjangan pengangguran hingga 2021. Namun, Senat AS menolak dan menyebut kesepakatan itu terlalu mahal.

Saat ini pengangguran terus bertambah akibat melonjaknya kasus pandemi COVID-19. Sejumlah negara bagian membatalkan ekonominya dibuka kembali.
Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS jumlah pengangguran selama 27 minggu atau lebih melonjak dari 19,1% menjadi 32,5% pada Oktober.

(zlf/zlf)