Dunia Dihantam 'Tsunami' Utang Rp 3.835 Kuadriliun, RI Aman?

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 14:46 WIB
UN Swissindo
Ilustrasi/Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah
Jakarta -

Institute for International Finance (IIF) mengungkapkan saat ini dunia sedang mengalami serangan 'tsunami' utang akibat pandemi Corona (COVID-19). Utang global naik ke level tertinggi yang jumlahnya sudah mencapai US$ 272 triliun atau sekitar Rp 3.835 kuadriliun (kurs Rp 14.100) pada kuartal III-2020.

Di Indonesia sendiri, hingga akhir September 2020 total utang pemerintah mencapai Rp 5.756,87 triliun. Dengan angka tersebut maka rasio utang pemerintah sebesar 36,41% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Total utang pemerintah itu terdiri dari pinjaman sebesar Rp 864,29 triliun dan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 4.892,57 triliun.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad mengatakan jumlah utang Indonesia masih dalam kategori aman. Hanya saja memang, memiliki risiko yang tinggi.

"Memang (utang) kita itu menurut pengertian IMF masih relatif aman kalau pengertiannya negara-negara luar karena kalau kita lihat ada yang lebih tinggi dari kita. Tetapi memang ada yang lebih rendah dari kita misalnya Filipina itu 2020 24,7% PDB. Saya kira kalau aman iya, cuma sekarang pada fase punya risiko yang tinggi," kata Tauhid kepada detikcom, Jumat (20/11/2020).

Risiko tinggi yang dimaksud karena jumlah utang Indonesia dinilai lebih besar dibanding kemampuan bayarnya. Hal itu tercermin dari pendapatan melalui pertumbuhan penerimaan pajak yang disebut tidak berbanding dengan peningkatan jumlah utang.

"Ini berbanding terbalik pertumbuhan pajaknya kan turun, artinya dari penerimaan kita tidak mampu untuk membayar utang sebesar itu karena pertumbuhan utangnya kan tahun ini kita lebih banyak utang ketimbang menggenjot pendapatan. Ini yang menurut saya akan berisiko, bukan berbahaya tapi risikonya akan semakin tinggi," imbuhnya.

Utang Indonesia masih dalam kategori aman juga disampaikan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Menurutnya, bahayanya suatu utang tidak diukur hanya berdasarkan dari jumlahnya, tetapi jika utang tersebut tidak bermanfaat terhadap kesejahteraan masyarakat.

"Bahaya atau tidaknya utang menurut saya tidak diukur dari jumlah nya. Kalau menurut saya utang Indonesia sejauh ini masih aman," ucapnya.

(eds/eds)