Vaksin hingga Keringanan Utang Negara Miskin Dibahas di KTT G20

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 21 Nov 2020 23:03 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menlu Retno Marsudi (kiri) dan Menkeu Sri Mulyani mengikuti forum KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/3/2020). KTT yang digagas oleh Arab Saudi selaku Ketua G20 tahun ini tersebut membahas upaya negara-negara anggota G20 dalam penanganan COVID-19. ANTARA FOTO/HO/Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr/sgd/aww.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) Mengikuti KTT G20 pada Maret 2020/Foto: ANTARA FOTO/MUCHLIS JR

Oleh karena itu negara di dunia harus bekerja sama agar perekonomian bisa pulih. Dibutuhkan kebijakan ekonomi, keuangan, fiskal dan moneter. "Meskipun sudah banyak ekonomi di negara G20 yang mengalami pembalikan, tapi itu masih sangat awal dan masih sangat rapuh," jelas dia.

Menurut dia, dalam pembahasan financial track ini juga ada fokus terkait bagaimana cara negara berkembang bisa mendapatkan vaksin. Karena itu peranan lembaga multilateral menjadi sangat penting.

"Bagaimana mereka bisa memberikan dukungan ke negara berkembang, negara miskin agar bisa mendapatkan vaksin. Ini sangat penting," ujar dia.

Sri Mulyani menambahkan, dalam forum ini juga ada pembahasan debt service suspension initiative (DSSI) untuk memberikan fasilitas relaksasi utang bagi negara miskin. Hal ini sangat dibutuhkan di kondisi ekonomi dan fiskal yang sulit seperti sekarang.

"Dalam pembahasan yang didukung lembaga multilateral IMF dan Bank Dunia ini menyepakati untuk memberikan relaksasi cicilan utang tadinya hingga akhir tahun, kemudian diperpanjang hingga pertengahan tahun 2021. Tujuannya agar negara berpendapatan rendah bisa punya ruang fiskal untuk menangani COVID-19," jelasnya.

Halaman

(kil/ara)