Hindari 'Kebobolan' Lagi, Pemerintah Mau Pangkas Libur Akhir Tahun

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 24 Nov 2020 06:11 WIB
Cuti Bersama
Ilustrasi/Foto: Fuad Hasim

Berbeda dengan Hariyadi, Sekjen Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno bersikap pasrah alias tidak peduli dengan kemungkinan terjadinya pengurangan libur panjang. Yang lebih penting baginya, pemerintah bisa memberikan stimulus kepada pengusaha agen travel agar bisa menarik pengunjung dengan harga-harga murah.

"Kita sih nggak peduli mau dikurangi atau enggak, sekarang tuh demand-nya nggak ada. Demand-nya bisa di-create kalau memang harganya murah. Kalau tiap minggu dibuat long weekend tapi masyarakat masih belum berani untuk bepergian dan harga tiket pesawat mungkin mahal, ya itu juga sama saja, creating demand-nya itu yang susah," kata Pauline kepada detikcom.

Kalau pun nantinya libur panjang dikurangi, Pauline meyakini hal itu tidak akan mengurungkan niat orang untuk berlibur. Sebab, libur akhir tahun dianggap sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat yang suka bepergian.

"Sepertinya ada atau tidaknya cuti bersama tidak mengurangi minat orang berlibur ya kalau year end. Bawaannya seminggu itu kan sudah mood holiday. Mereka pasti akan tetap melakukan perjalanan walaupun itu libur atau enggak, terutama swasta karena dia bisa memanfaatkan jatah cuti yang masih ada," ucapnya.


Lagi pula berdasarkan pengalamannya kemarin, libur panjang disebut tidak terlalu berpengaruh bagi pengusaha agen travel. Pasalnya masyarakat lebih banyak bepergian sendiri bersama keluarga.

"Basically dari kami melihat long weekend memang potensial untuk pertumbuhan pariwisata, cuma pengalaman dari yang sebelumnya, yang dapat order kebanyakan masih hotel dan maskapai karena sekarang ini trend traveller bepergian sendiri. Jadi travel agent terutama teman-teman tour operator di daerah belum terlalu merasakan dampak positif dari long weekend," tandasnya.

Halaman

(eds/eds)