Harga Beras Turun Pertengahan Februari

Harga Beras Turun Pertengahan Februari

- detikFinance
Kamis, 26 Jan 2006 11:39 WIB
Jakarta - Tingginya harga beras saat ini akan berangsur turun pada pertengahan Februari, karena saat itu terjadi kelebihan pasokan atau surplus beras hingga 1 juta ton.Produksi beras pada Februari diperkirakan sebesar 3,5 juta ton. Sedangkan konsumsi bulanan sebesar 2,5 juta ton, sehingga terjadi surplus 1 juta ton."Dampaknya harga beras pertengahan Februari akan berangsur turun," kata Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir, di sela acara seminar perberasan di Gedung Bidakara, Jalan MT Haryonno, Jakarta, Kamis (26/1/2006).Melonjaknya harga beras saat ini, ungkap Winarno, karena produksi beras Januari hanya sebesar 1,2 juta ton sehingga terjadi defisit beras untuk kebutuhan masyarakat.Harga beras di tingkat pedagang saat ini rata-rata sudah di atas Rp 4.000 per kilogram. Bahkan di beberapa daerah sudah menyentuh level Rp 5.000 per kilogram. Untuk tahun ini, KTNA memperkirakan produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 54 juta ton, yang dengan jumlah ini produksi beras menjadi 32 juta ton.Dari jumlah tersebut, menurut Winarno, produksi gabah dan beras bisa mencapai 50 persen pada saat panen raya bulan Maret dan April.Namun Winarno mencemaskan target itu bakal meleset jika hingga April curah hujan masih tinggi, karena bisa mengakibatkan harga beras naik lagi."Dengan kondisi musim hujan, kualitas beras akan menurun. Banyak tengkulak tidak mau beli, sehingga stok di pasar langka," ujar Winarno.Dia juga menjelaskan, berdasarkan rapat Dewan Ketahanan Pangan (DKP), dengan harga pokok pembelian (HPP) beras oleh pemerintah Rp 3.550 per kilogram, maka harga wajar di tingkat pedagang dengan mengambil margin 15 persen adalah Rp 4.100 per kilogram.Menyinggung masalah ketersediaan pupuk, menurutnya, saat ini kebutuhan pupuk secara keseluruhan untuk pertanian, perkebunan dan industri mencapai 5,9 juta ton.Sementara produksi pupuk dalam negeri sebesar 5,6 juta ton, karena pasokan gas ke produsen pupuk hanya 69 persen.Akibatnya, ketersediaan pupuk saat ini agak langka. Jika terus berlanjut bisa membuat produksi beras selama setahun turun 10 persen. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads