Anies Sebut Long Weekend Jadi Biang Kerok Kasus COVID DKI Naik Lagi

Tim Detikcom - detikFinance
Selasa, 24 Nov 2020 12:35 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memenuhi undangan Polda Metro Jaya untuk klarifikasi soal kerumunan di acara Habib Rizieq Shihab, Selasa (17/11/2020).
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membeberkan kondisi penyebaran virus Corona (COVID-19) di Ibu Kota saat ini. Menurut Anies, kenaikan kasus aktif yang terlihat kembali salah satunya disebabkan oleh long weekend atau libur panjang Oktober lalu.

Pada awalnya, Anies menjelaskan kembali alasan Pemprov DKI menarik rem darurat PSBB pada pertengahan September lalu.

"Ketika mulai 1-12 September dalam waktu yang amat singkat terjadi lonjakan active case, itu naik 49% dalam 12 hari. Lalu kontribusi kematian dalam 6 bulan itu mengkontribusi 17% kematian, dan dalam 12 hari itu kontribusi 25% kasus. bayangkan hanya 12 hari, dibandingkan 6 bulan, kontribusi kasusnya itu 25%. Jadi kenapa kita harus melakukan emergency break, itu situasinya memang berbahaya," ungkap Anies dalam webinar Penanganan COVID-19 di DKI Jakarta, Selasa (24/11/2020).

Setelah PSBB darurat diberlakukan lagi sampai pertengahan Oktober 2020, menurutnya kasus aktif Corona berhasil turun kembali. Namun, ketika ada long weekend di akhir Oktober 2020, kasus baru mulai naik kembali.

"Kalau melihat sekarang alhamdulillah we did it, drop kemudian turun ke bawah. Tapi ketika mulai turun, tahu-tahu ada long weekend yang kita tetap melaksanakan, konsekuensinya kita mulai lihat kenaikan lagi," jelas Anies.

Naik-turunnya kasus aktif COVID-19 di Jakarta turut menyebabkan kapasitas di tempat isolasi mandiri, ICU, dan sebagainya juga ikut naik-turun.

"Per hari ini ada 69% ICU yang terpakai, kemudian kamar isolasi terpakai 75%. Dan tempat isolasi mandiri terpakai 53%. Ini sempat turun, angka isolasi kita bahkan hanya 21% yang terpakai, sekarang mulai naik lagi. Ini kita harus hati-hati lagi, ekstra," ujarnya.

Di sisi lain, menurutnya Pemprov DKI terus berupaya menangani krisis kesehatan ini, yakni dengan 3T atau testing, tracing, dan treatment.

Selanjutnya
Halaman
1 2