Pengusaha Mal Minta Libur Panjang Tak Dipangkas

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Minggu, 29 Nov 2020 13:20 WIB
Roda ekonomi ITC Cempaka Mas kembali bangkit setelah cukup lama berjuang menghadapi penurunan ekonomi saat pandemi COVID-19.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pemerintah sedang mengkaji pengurangan hari libur panjang atau cuti bersama di akhir tahun 2020. Hal itu terjadi setelah bertambahnya klaster baru penyebaran virus Corona (COVID-19) pada libur panjang sebelumnya di bulan Oktober.

Sementara itu, beberapa pengusaha sebetulnya sangat berharap datangnya momen libur panjang. Pengusaha tenant alias penyewa toko di mal misalnya, mereka mengaku masih berharap libur panjang tidak dipotong.

Pasalnya, menurut Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah momen libur panjang biasanya membuat banyak orang memilih mengunjungi mal untuk mengisi waktu liburnya.

"Kalau kami dari peritel, ya sukanya mending ada libur panjang. Karena kemungkinan banyak orang isi liburnya ke mal sama keluarganya misalnya, mau belanja, nonton, atau makan. Kami ya lebih senang sih kalau ada libur panjang," ujar Budihardjo kepada detikcom, Minggu (29/11/2020).

"Teman-teman restoran juga bisa dapat pemasukan banyak, karena banyak yang mau makan di luar," ujar Budihardjo.

Secara penjualan, Budihardjo menjelaskan momen liburan, apalagi libur hari raya macam libur natal di akhir tahun jelas akan memberikan dampak positif kepada para tenant di mal.

Dia pun menilai libur natal tahun ini akan memberikan kenaikan penjualan bagi para peritel di mal, apalagi pihaknya juga sudah menyiapkan banjir diskon.

Namun, apabila libur panjang dipotong, Budihardjo mengatakan kenaikan penjualan akan lebih kecil daripada yang sudah diprediksi sebelumnya. Dari awalnya diprediksi naik 25-30%, bila libur dipotong cuma naik 20% saja.

"Prediksi kita, kalau dibanding tahun lalu jelas masih turun. Cuma dibanding situasi COVID kenaikan bisa 25-30%, cuma kalau libur panjang dipotong ya turun prediksinya, mungkin 20% saja," ungkap Budihardjo.

Selanjutnya
Halaman
1 2