Kok Bisa Sih Harga Tanaman Doang Tembus Ratusan Juta?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 29 Nov 2020 14:39 WIB
Tanaman hias janda bolong variegata menghebohkan Tanah Air. Tanaman hias itu harganya tembus hingga puluhan juta rupiah.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Harga tanaman hias melonjak fantastis di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) ini, bahkan ada yang tembus hingga ratusan juta rupiah. Salah satu jenis tanaman yang tembus hingga ratusan juta rupiah misalnya seperti monstera white monster dan monstera mint variegata seharga Rp 150 juta.

Bagi para penjual, menetapkan harga tanaman mulai dari yang murah, bahkan fantastis hingga jutaan, puluhan, bahkan ratusan juta memang ada beberapa pertimbangan. Rico Rusdiansyah, salah satu penjual tanaman hias menjelaskan, caranya menetapkan harga ialah dengan melihat kelangkaan dari tanaman tersebut.

"Kedua, lihat di luar negeri standar harganya berapa. Kita bisa melihat ebay atau etsy. Orang-orang luar yang posting dan jual. Bahkan ada yang lelang, seperti di ebay. Jadi lelang tertinggi harganya berapa, itu jadi standar harga baru," kata Rico ketika ditemui detikcom di tokonya @Titikhijau, di kawasan Depok, Jawa Barat, Kamis (26/11/2020).

Namun, jika ia memiliki tanaman harga yang belum dimiliki penjual lain, dan juga tak ada referensi harga, maka ia bisa menetapkan sendiri. "Mungkin kalau belum ada referensi, ya kita bisa tentukan harga sendiri," imbuh Rico.

Ditemui secara terpisah, Mas Ayu Febiryanti yang juga menjual tanaman hias melalui tokonya @Floraayunusantara mengatakan hal serupa.

"Jadi paling mudah adalah ketersediaan stok yang harus tahu, dia langka atau tidak. Jadi kita perlu wawasan ketersediaan stok seberapa banyak," tutur Ayu ketiak ditemui di kediamannya, di kawasan Ciputat.

Selain itu, menurutnya keindahan suatu tanaman yang dihasilkan dari perawatan sang penjual sendiri juga jadi komponen menetapkan harga.

"Nilai yang nggak bisa diukur adalah keindahan tanaman yang merupakan hasil perawatan sendiri. Jadi kita bisa beli tanaman yang sama, tapi saya dan penjual lain merawatnya berbeda, sehingga penampilannya itu yang menyebabkan harga kamu, karena kamu lebih telaten atau memahami tanaman ini, sehingga kamu bisa menetapkan harga. Jadi saya mau tanaman saya dibeli harganya sekian, kalau tidak ya sudah nanti penjual bisa cari penjual lain," jelas Ayu.

Sementara itu, bagi penjual tanaman sukulen seperti Putri Nabila, cara menetapkan harganya sedikit berbeda. Karena tanaman yang dijualnya memerlukan waktu tumbuh yang cukup lama, maka waktu itulah yang juga menjadi komponen menetapkan harga.

"Dari segi lamanya tumbuhan itu bisa tumbuh. Semakin lama dia tumbuh, harganya semakin mahal. Karena perputarannya lama sekali kan bunga ini. Dan dari segi kualitas, bunga ini lebih tahan lama, cenderung lebih kuat dari bunga lain. Karena dari akar sudah jadi, dan kita rawat khusus selama 1-1,5 tahun itu mungkin disebutnya tanaman koleksi. Jadi sudah sangat besar," ungkap Nabila, pemilik toko @Succuland_.

Selain itu, ia juga menentukan harga dengan melihat dari mana asal bibit tanamannya.

"Karena pertama dia tumbuhnya susah banget. Jadi kita tetapin harga itu pertama bibitnya darimana, karena untuk lewat bea cukai dan sebagainya itu kan panjang prosesnya," urai Nabila.

Ia mengaku, pernah menjual tanaman jenis echeveria culibra yang telah dirawatnya selama 3 tahun dengan harga jutaan rupiah. Selain lama menumbuhkannya, hasil tanamannya pun memiliki keunikan yang membuat berbeda dengan echeveria culibra lainnya.

"Ada, itu saya lelang, karena itu saya lelang umurnya 3 tahun, dan tumbuhnya beda sendiri, namanya echeveria culibra," imbuhnya.

Sementara itu, menurut pengamat bisnis Indef Ahmad Heri Firdaus, tanaman hias yang dijual dengan harga fantastis pada dasarnya kembali ke mekanisme pasar.

"Jadi supply and demand. Kalau demand laku keras, ya mengerek harga. Kalau supply banyak, ya harga stabil. Tapi karena juga tanaman hias langka itu segmen pasarnya beda, jadi pembeli juga berani bayar mahal," tutur Heri ketika dihubungi detikcom secara terpisah.

(zlf/zlf)