India Masuk Resesi, Apa yang Bisa Menyelamatkannya?

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 08:06 WIB
Voters stand in a queue to cast their votes outside a polling station at Paliganj, in the eastern Indian state of Bihar, Wednesday, Oct. 28, 2020. Voting began Wednesday in India’s third-largest state of Bihar, the first major election in the country since the pandemic and a test for Prime Minister Narendra Modi’s popularity as he faces criticism on many fronts. (AP Photo/Aftab Alam Siddiqui)
Foto: AP Photo/Aftab Alam Siddiqui
Jakarta -

Perekonomian India mulai mengalami tren pembalikan di kuartal III-2020. Ekonomi India mulai terjadi peningkatan di sektor manufaktur dan diperkirakan pemulihan lebih cepat terjadi seiring dengan kemajuan pengembangan vaksin.

Pertumbuhan ekonomi India terkontraksi 7,5% pada kuartal III-2020, angka tersebut lebih baik dibandingkan kuartal II yang minus hingga 23,9%. Diperkirakan, hingga akhir tahun, pertumbuhan ekonomi India ada di level minus 8,8%.

Perdana Menteri Narendra Modi berharap ada pelonggaran UU Pertanian dan ketenagakerjaan baru, serta pemberian insentif pajak demi meningkatkan produktivitas dan investasi sektor manufaktur.

Pertumbuhan sektor pertanian secara tahunan (YoY) 3,4%, dan manufaktur selama periode Juli-September tumbuh 0,6%. Perbaikan ini dipicu oleh rencana pemerintah India yang akan mendistribusikan vaksin ke sekitar 1,4 miliar penduduknya.

"Angka PDB Q2 menggembirakan," kata Krishnamurthy Subramanian, kepala penasihat ekonomi di Kementerian Keuangan India yang dikutip dari CNBC, Senin (30/11/2020).

Dengan tren perbaikan di sektor manufaktur dan pertanian, dia memperkirakan pemulihan ekonomi India bisa berbentuk 'V' yang dibantu kenaikan permintaan barang konsumsi dan investasi.

"Secara keseluruhan, meskipun pemulihan memberikan optimisme, kewaspadaan terhadap pandemi dan oleh karena itu terhadap ekonomi masih diperlukan," jelasnya.

Kasus terinfeksi Corona di India mencapai 9,3 juta orang dan menjadi tertinggi kedua setelah Amerika Serikat (AS), dengan tingkat kematian mencapai 135.715 jiwa.

(hek/fdl)