Salip Mesir dan Malaysia, Investasi Halal RI Juara Dunia

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 02 Des 2020 14:37 WIB
produk makanan halal jepang
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Total transaksi pada investasi ekonomi halal di dunia pada tahun 2019 mencapai US$ 11,8 miliar atau sekitar Rp 167 triliun (kurs Rp 14.161). Dari nilai tersebut, tercatat ada 20 negara dengan pertumbuhan investasi terbesar di dunia, di mana Indonesia menduduki peringkat pertama.

Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2020/21 yang melampirkan kondisi ekonomi halal di tahun 2019, Indonesia mencatat 38 transaksi pada investasi halal di dunia, atau berkontribusi sebesar 25% dari daftar keseluruhan transaksi investasi halal dari daftar 20 negara tersebut..

Sementara itu, Malaysia ada di posisi kedua dengan 31 transaksi; ketiga adalah UEA dengan 20 transaksi; keempat Mesir dengan 16 transaksi; lalu Kuwait dengan 8 transaksi; Nigeria dengan 7 transaksi, Arab Saudi dengan 6 transaksi; Pakistan 5 transaksi; Turki 4 transaksi; Bangladesh, Brunei, Yordania, Oman, Tunisia, dan Inggris dengan 2 transaksi; serta Algeria, Bahrain, Belgia, Kepulauan Virgin Britania Raya, dan Belanda dengan 1 transaksi.

"Dari sudut pandang negara, Indonesia dan Malaysia memiliki total transaksi terbesar. Ini menggambarkan kuatnya pertumbuhan ekonomi halal pada ekosistem Asia Tenggara," ungkap CEO and Managing Director DinarStandard Rafi-uddin Shikoh dalam virtual event Reimagine: Halal in Asia 2020yang bertema Asia's Golden Age: 2021 and Beyond for Halal Ecosystem, Rabu (2/12/2020).

Jika melihat dari sektornya, investasi terbesar ada di sektor makanan halal dengan kontribusi hingga 51,86%, kemudian keuangan syariah sebesar 41,8%, wisata halal 2,89%, farmasi halal 1,33%, kosmetik halal 1,06%, dan bidang lainnya 1,06%.

Melihat jenisnya, kesepakatan investasi paling besar ialah dari aksi merger dan akuisisi (M&A), yang berkontribusi sebesar 54% pada total investasi halal ke-20 negara tersebut. Kemudian jenis modal ventura sebesar 40%, dan private equity (PE) sebesar 6%.

"Kontribusi 6% dari PE menunjukkan adanya peluang besar untuk para pemainnya," jelas Rafi-uddin.

Dari investasi M&A, investor terbesarnya adalah Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dari Indonesia yang mengakuisisi Pinehill Company (Kepulauan Virgin Britania Raya) senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 42,52 triliun.

Kemudian, pada transaksi jenis PE investor terbesarnya adalah Qatar dan Singapura, dan target investasinya adalah Traveloka Group of Companies (Indonesia) dengan nilai sebesar US$ 250 juta atau sekitar Rp 3,54 triliun.

Terakhir, pada jenis permodalan ventura investor terbesarnya adalah Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang menyuntikkan modal pada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek (Indonesia) dengan nilai masing-masing US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 17 triliun dan US$ 375 juta atau sekitar Rp 5,31 triliun.

(eds/eds)