Data Ekspor Mebel BPS Janggal

Asosiasi Mebel:

Data Ekspor Mebel BPS Janggal

- detikFinance
Jumat, 27 Jan 2006 16:54 WIB
Jakarta - Asosiasi Permebelan Indonesia (Asmindo) mempertanyakan data ekspor mebel yang dikeluarkan Badan Pusat Satitik (BPS) yang dinilai janggal. Data BPS dinilai tidak sesuai dengan kondisi industri mebel dalam negeri yang sedang sekarat, namun jumlah ekspor selalu mengalami kenaikan signifikan.Ekspor mebel tahun 2005 berdasarkan data BPS tercatat sebesar US$ 1,63 miliar, naik dibandingkan tahun 2004 yang sebesar US$ 1,55 miliar.Padahal di tahun 2005, Asmindo mendata ada 23 pabrik furnitur yang mati dan 46 perusahaan kondisinya mati segan hidup tak mau dari total pabrik mebel di Indonesia yang sebanyak 2.016 usaha. Buramnya industri mebel dalam negeri di tahun 2005, menurut Ketua Asmindo Panangga S Karim, akan beimbas pada turunnya nilai ekspor. Namun yang terjadi data BPS menunjukkan hal yang sebaliknya.Panangga menduga, yang dicatatkan ekspor oleh BPS adalah bahan baku rotan dan rotan setengah jadi. Ini terjadi karena eksportir memanipulasi kode barang ekspor dengan mengatakannya sebagai barang jadi rotan atau mebel untuk menghindari pajak ekspor."Ini jelas ada manipulasi dokumen ekspor," kata Panangga di sela acara pertemuan Kadin dan Meneg PPN/Ketua Bapenas Paskah Suzetta di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta, Jumat (27/1/2006). Menurut Panangga, sejak dibukanya keran ekspor rotan telah terjadi pengalihan pesanan sebesar 20 persen dari Indonesia ke negara Cina dan Vietnam.Dibukanya ekspor tersebut, juga telah membuat pembeli internasional yang semula berpikir barang jadi rotan hanya dari Indonesia, akhirnya beralih ke Cina karena harganya lebih murah."Sebenarnya kita tidak menolak ekspor tapi lebih setuju yang diekspor batang jadi rotan," ujar Panangga.Saat ini, ungkap Panangga, industri mebel dalam negeri sangat memprihatinkan, setelah dihantam kenaikan BBM yang membuat biaya produksi naik 20 persen. Sementara pembeli hanya menoleransi kenaikan harga 6 persen. Sedangkan jika rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 30-35 persen jadi dilakukan, maka industri mebel akan collaps karena tidak bisa bertahan dengan mengurangi biaya produksinya.Melihat kondisi ini, ungkap Panangga, Asmindo meminta dukungan dari semua pihak agar keran ekspor rotan ditutup, seperti keinginan Menteri Perindustrian Fahmi Idris untuk memperkuat industri permebelan lokal. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads